get app
inews
Aa Text
Read Next : Anggaran Pemda KBB Macet, Atlet Difabel Terpaksa Latihan Pakai Dana Dapat Utang

Berjuang di Tengah Keterbatasan, 74 Atlet NPCI KBB Lolos Klasifikasi Peparda Jabar

Jum'at, 17 Juli 2026 | 21:51 WIB
header img
Atlet NPCI KBB mengikuti klasifikasi jelang Peparda VII Jabar Tahun 2026 yang akan tampil dalam 15 cabang olahraga dari total 17 yang dipertandingkan. (Foto: Istimewa).

BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id - Sebanyak 74 atlet dari Kabupaten Bandung Barat (KBB) lolos klasifikasi Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat.

Pada Peparda VII kali ini, kontingen KBB akan tampil dalam 15 cabang olahraga dari total 17 yang dipertandingkan. Adapun pada penyelenggaraan sebelumnya KBB hanya ikut serta dalam 9 cabang olahraga.

"Dari total 81 atlet ikuti proses klasifikasi, sebanyak 74 atlet dinyatakan lolos dengan status final, dua atlet harus menjalani pemeriksaan ulang di RS Mata Cicendo dan tujuh lainnya tidak memenuhi syarat kelas," terang Wakil Sekretaris Umum Komite Paralimpik Nasional Indonesia (NPCI) KBB, Acep Kurnia, Jumat (17/7/2026).

Acep mengatakan, untuk potensi raihan target medali akan mengandalkan kekuatan atlet dari cabang boling, anggar, atletik, judo, dan renang.

Namun itu tidak mudah karena saingan ketat diprediksi datang dari kontingen Kota Bandung, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bandung, yang memiliki persiapan lebih matang.

Ia menjelaskan, pada gelaran kali ini ada perubahan aturan yang cukup signifikan. Dimana peraturan baru dari NPCI itu memaksa sebagian atlet dipindahkan nomor pertandingan, kelas, bahkan cabang olahraga.

Perubahan aturan klasifikasi juga memengaruhi peluang medali. Cabang panahan dan tenis meja showdown tunanetra kini memiliki peluang lebih berat karena penyesuaian kelas baru.

"Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam menyusun strategi dan penyesuaian atlet jelang Peparda Jabar yang tinggal empat bulan lagi," sambungnya.

Potensi besar ini terancam terhambat oleh masalah mendasar yang belum terselesaikan. Yakni ketidakjelasan anggaran hibah yang akan diterima, sehingga seringkali menghambat jadwal latihan.

Ditambah lagi sampai sekarang KBB belum memiliki sarana dan prasarana latihan sendiri. Sementara itu untuk sewa tempat dan peralatan membutuhkan biaya sangat besar.

Minimnya sarana prasarana dan fasilitas tersebut sangat terasa di sejumlah cabang andalan. Seperti cabang balap sepeda belum memiliki sepeda balap tunggal maupun sepeda tandem untuk atlet tunanetra.

Sedangkan cabang bowling yang menjadi andalan medali, sebut dia, terpaksa menghentikan latihan lantaran dana sewa gelanggang sudah habis.

"Bahkan, atlet dari pelosok wilayah pun menghadapi kesulitan biaya perjalanan ke lokasi latihan," ucapnya.

Pihaknya berharap pemerintah daerah KBB dan DPRD segera memperhatikan kesenjangan alokasi anggaran yang masih jauh tertinggal dibandingkan KONI.

Selain membutuhkan kejelasan pendanaan, kebutuhan mendesak adalah pembangunan stadion dan gelanggang olahraga milik sendiri.

“Atlet yang disiapkan ini tidak hanya untuk Peparda, tapi juga Pekan Para Pelajar, Peparpenas, hingga Seleknas. Khawatirnya atlet potensial berpindah ke daerah lain karena minim perhatian,” tandasnya. (*)

Editor : Rizki Maulana

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut