Di Balik Skenario Ekowisata Puncak, Tangisan Dedi Mulyadi Berakhir Antiklimaks?
Ancaman Betonisasi dan Risiko Ekologis Baru
Kehadiran sarana baru seperti camping ground, jogging track, hingga jalur pendakian juga menyimpan potensi masalah ekologis baru jika tidak dikontrol ketat.
"Apa landasannya? Pertama jalur itu akan meningkatkan kontribusi manusia datang ke satu kawasan dan kegiatan itu pun juga akan memicu meningkatkan timbulan sampah yang begitu besar. Nah ini yang kemudian kami tidak harapkan," jelasnya.
Sektor pembangunan fisik di area resapan air Puncak pun disorot agar terhindar dari material yang mematikan penyerapan air hujan.
"Keempat perlu juga dievaluasi dan juga perlu dipastikan bangunan-bangunan atau infrastruktur yang dibangun di sana itu bukan bangunan betonisasi. Karena meskipun mereka akan menggunakan rumus 20% dari daya dukung daya tampung, tapi air hujan yang kemudian nanti tertahan dengan beton itu akan memicu run-off yang tinggi," paparnya.
Ujian Konsistensi Kepemimpinan
Penyegelan dan aksi emosional di masa lalu kini dinilai tidak ada artinya jika pengawasan ketat mengendur begitu perhatian publik meredup. WALHI menegaskan, ketegasan gubernur diuji dari tindakan nyata, bukan sekadar respons emosional di depan kamera.
"Iya betul dan tingkah Gubernur sampai menangis itu hanya air mata kebohongan kalau fungsinya dia tidak dijalankan. Karena tadi, meskipun secara kewenangan ada di nasional dalam bentuk izin, ada proses pengawasan yang harus wajib dilakukan oleh Gubernur," tegas Iwang.
"Tangisan itu harus ditandakan dengan bagaimana proses pengawasan yang dilakukan Gubernur terhadap semua perusahaan," pungkasnya.
Editor : Agung Bakti Sarasa