Bukan Sekadar Main! 2.000 Anak Hidupkan Lagi Permainan Tradisional di Bandung
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Congklak, bekel, gasing bambu hingga cingciripit kembali hadir di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung. Selama sepekan, permainan tradisional yang mulai jarang ditemui dalam keseharian anak-anak kembali menjadi bagian dari aktivitas keluarga melalui Festival Bermain Anak 2026 di 23 Paskal Shopping Center.
Digelar pada 17–23 Agustus 2026, festival yang untuk pertama kalinya hadir di Bandung ini mengajak lebih dari 2.000 peserta untuk mengenal, memainkan, sekaligus menghidupkan kembali permainan tradisional Indonesia.
Kegiatan tersebut digagas Paradise Indonesia melalui unit bisnisnya, 23 Paskal Shopping Center, bersama PlayPlus Indonesia. Mengusung tema “Menghidupkan Tradisi, Membangun Masa Depan”, Festival Bermain Anak 2026 tidak sekadar menghadirkan permainan, tetapi menjadikan ruang publik sebagai tempat belajar budaya yang menyenangkan.
Anak-anak bersama orang tua dapat memainkan berbagai permainan tradisional, seperti congklak, bekel, gasing bambu, cingciripit hingga cato riumeuneng. Di balik aktivitas tersebut, terselip nilai kebersamaan, kreativitas, sportivitas dan keberagaman budaya Indonesia.
Festival ini menjadi menarik karena mempertemukan tiga unsur sekaligus: anak dan keluarga, komunitas, serta pelaku budaya.
Lebih dari 35 komunitas, 25 kelompok seni pertunjukan tradisional dan 10 narasumber dari berbagai bidang turut terlibat dalam rangkaian kegiatan. Mereka membawa beragam pengalaman dan pengetahuan untuk diperkenalkan kepada pengunjung.
Lebih dari 2.000 Peserta Ikut Bermain
Antusiasme masyarakat menjadi salah satu gambaran bahwa permainan tradisional masih memiliki tempat di tengah perkembangan teknologi dan semakin beragamnya pilihan hiburan anak.
Campaign, Experience, & CRM Manager 23 Paskal Shopping Center, Indra Pratama Wicaksono, mengatakan tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan permainan tradisional masih relevan untuk diperkenalkan kepada generasi muda.
“Antusiasme lebih dari 2.000 peserta menunjukkan bahwa permainan tradisional masih relevan, memiliki tempat dan daya tarik di tengah pilihan hiburan yang semakin beragam saat ini,” ujar Indra.
Menurutnya, Festival Bermain Anak tidak hanya ditujukan untuk mengejar jumlah pengunjung. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan dapat menciptakan ruang interaksi antara anak, orang tua, keluarga, komunitas dan pelaku budaya.
“Melalui Festival Bermain Anak, 23 Paskal hadir bukan hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai ruang belajar bersama yang memungkinkan keluarga, komunitas, dan pelaku budaya saling terhubung,” katanya.
Selama festival berlangsung, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari pagelaran tradisional, lomba Agustusan, Amazing Race, lomba mewarnai, peragaan busana, Tari Jaipong, Drama Musikal Barudak Nusantara, flashmob hingga workshop membuat dan menghias layang-layang.
Aktivitas tersebut membuat pengalaman bermain tidak berhenti pada permainan tradisional. Pengunjung juga diajak mengenal seni, budaya, kreativitas dan aktivitas kolaboratif.
Libatkan Puluhan Komunitas dan Pelaku Seni
Festival Bermain Anak 2026 juga menjadi ruang bertemunya berbagai komunitas di Bandung dan Jawa Barat.
Sejumlah komunitas yang terlibat antara lain Forum Penulis Bacaan Anak, Kampung Dongeng Kota Bandung, Read Aloud Academia, Sanggar Purbaning Laras, Aksara Rembaka dan Rangkai Jawa Barat.
Selain komunitas, festival menghadirkan 10 narasumber dari bidang literasi, pendidikan, kepemudaan, sosial dan budaya.
Beberapa di antaranya yakni penulis buku anak dan pegiat literasi Tethy Ezokanzo, pegiat komunitas dan kegiatan sosial Reissa Usadinata, community dan youth leader dari Narasi Jawa Barat Din Muhammad Kausar, serta pegiat kerelawanan dan community facilitator Ardelia Clarissa Rahmat.
Semarak acara juga diperkuat kehadiran sejumlah kreator konten dan figur publik, termasuk Endah Parawansa dan Salma Salsabila.
Di tengah pelaksanaan Festival Bermain Anak 2026, aktivitas di 23 Paskal juga tetap berjalan. Total hampir 300.000 kunjungan tercatat selama periode 17–23 Agustus 2026.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa pusat perbelanjaan dapat menjadi lebih dari sekadar ruang transaksi. Dalam festival ini, 23 Paskal menjadi tempat bertemunya aktivitas komersial dengan kegiatan sosial, budaya dan komunitas.
Bagian dari Paradise Merdeka Bermain
Festival Bermain Anak 2026 di Bandung merupakan bagian dari program Paradise Merdeka Bermain, sebuah kegiatan sosial Paradise Indonesia melalui kampanye #BuildingTomorrow.
Program tersebut digelar di enam kota tempat Paradise Indonesia beroperasi, yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Bali, Makassar dan Batam.
Melalui program tersebut, Paradise Indonesia berupaya menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk bermain, belajar dan mengenal budaya. Kegiatan juga diarahkan untuk membuka peluang kolaborasi dengan komunitas lokal.
Chief of Corporate Communication Paradise Indonesia, Siti Utami, mengatakan keberlanjutan pendidikan dan budaya membutuhkan ruang yang mampu melibatkan generasi muda secara langsung.
“Keberlanjutan pendidikan dan budaya membutuhkan ruang, kolaborasi, serta pengalaman yang dapat melibatkan generasi muda secara langsung,” ujar Siti.
Menurutnya, permainan tradisional perlu dikenalkan bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga melalui pengalaman yang dapat dirasakan langsung oleh anak-anak.
“Melalui Paradise Merdeka Bermain dan Festival Bermain Anak di 23 Paskal, kami ingin menghadirkan ruang yang menyenangkan sekaligus bermakna agar anak-anak dapat mengenal budaya bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai pengalaman yang mereka mainkan, bagikan, dan teruskan,” katanya.
Dari Permainan Tradisional Menjadi Pengalaman Bersama
Festival Bermain Anak merupakan kegiatan yang telah diselenggarakan PlayPlus Indonesia sejak 2017 dengan tagline “Yuk Main Lagi”.
Selama ini, festival lebih banyak digelar di Jakarta. Kolaborasi dengan 23 Paskal Shopping Center dan Paradise Indonesia pada 2026 menjadi momentum pertama bagi Festival Bermain Anak hadir di Bandung.
Kehadirannya sekaligus memperluas kesempatan masyarakat Bandung untuk kembali memainkan permainan tradisional yang mungkin mulai jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi 23 Paskal, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun destination experience yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas komersial, tetapi juga memberikan pengalaman sosial dan budaya.
Konsep tersebut mempertemukan unsur people, lifestyle dan community dalam satu ruang.
Dengan hampir 300.000 kunjungan selama periode festival dan lebih dari 2.000 peserta yang mengikuti berbagai aktivitas, Festival Bermain Anak 2026 menunjukkan bahwa ruang publik masih dapat menjadi medium untuk mempertemukan generasi muda dengan budaya.
Lebih dari sekadar mengenalkan congklak atau gasing bambu, festival ini membawa pesan bahwa tradisi akan tetap hidup ketika dimainkan, diceritakan dan diwariskan.
Permainan tradisional pun tidak harus berhenti sebagai kenangan masa lalu. Di tangan generasi baru, permainan tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman masa kini sekaligus jembatan menuju masa depan.
Semangat Festival Berlanjut di 23 Paskal
Festival Bermain Anak 2026 memang telah berakhir. Namun, semangat menghadirkan aktivitas yang mempertemukan masyarakat, komunitas dan budaya diharapkan terus berlanjut di 23 Paskal Shopping Center.
Melalui berbagai program dan kolaborasi, ruang publik di pusat perbelanjaan tersebut diharapkan tetap menjadi tempat masyarakat untuk berkumpul, berinteraksi, belajar dan menciptakan pengalaman bersama.
Informasi mengenai event dan aktivitas terbaru 23 Paskal dapat diikuti melalui akun Instagram @23paskal.
Editor : Rizal Fadillah