Teknologi Eco-Solvent dan Kain Daur Ulang Mulai Dilirik Pelaku Usaha Konveksi di Jawa Barat
“Tantangannya bagaimana untuk production cost-nya bisa lebih rendah dan produk-produknya supaya lebih bisa diterima, kalau dari segi industri tekstilnya,” ujarnya.
Di sisi lain, perkembangan teknologi memberikan peluang baru bagi pelaku usaha, terutama untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam jumlah kecil maupun pesanan satuan.
Brian mengatakan pertumbuhan permintaan mesin dan teknologi apparel memang tidak setinggi tahun sebelumnya. Kondisi tersebut dipengaruhi antara lain oleh pembatasan impor dan perubahan nilai tukar yang berdampak terhadap harga mesin.
“Sebenarnya kemarin memang cukup berpengaruh dengan pembatasan impor, kemudian ada harga kurs yang naik. Itu ketika kita memasukkan mesin kan cukup berpengaruh juga,” katanya.
Meski demikian, peluang bisnis tetap terbuka.
“Peluang dan potensi tetap ada, walaupun memang tidak sesignifikan tahun lalu,” lanjutnya.
Narasumber pendamping dalam wawancara tersebut menambahkan, pertumbuhan kebutuhan mesin printing saat ini masih terjadi meski mengalami perlambatan. Pertambahannya diperkirakan berada di kisaran tiga hingga empat persen.
Dorong Produksi Ramah Lingkungan
Perkembangan teknologi juga dinilai dapat menjawab tantangan keberlanjutan atau sustainability dalam industri apparel.
Brian mencontohkan penggunaan teknologi eco-solvent yang dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan teknologi sebelumnya. Selain itu, bahan kain berbasis daur ulang juga semakin banyak digunakan.
“Dari kain juga sustainable, sudah banyak kain-kain yang berbasis recycle. Dan juga sekarang dari segi produksinya sendiri, limbah dari kain sisa itu bisa digunakan kembali, namanya upcycle,” tuturnya.
Editor : Agung Bakti Sarasa