Panggilan Kemanusiaan dari Kampus Ganesha: Mahasiswa ITB Turun Tangan Bantu Pemulihan Gempa NTT
Bukti Nyata di Lokasi Bencana
Bantuan tak berhenti pada deretan angka donasi. Mahasiswa yang tergabung dalam Tim ITB Peduli NTT Kloter 2 langsung bertolak ke Kabupaten Manggarai Timur. Hingga penghujung Agustus 2026, tim ini sukses mendirikan tiga Instalasi Pengolahan Air (IPA) di titik-titik krusial seperti RS Lapangan Dampek serta kamp pengungsian Pota dan Ronting.
Di Ronting, Desa Satar Kampas, relawan mahasiswa juga merampungkan 21 unit shelter komunal dan keluarga. Menariknya, warga lokal turut dilibatkan dalam proses pembangunan agar mereka memiliki kemandirian dalam fase rekonstruksi pascabencana.
Realita Pilu dan Ketegaran Warga
Menjejakkan kaki langsung di area terdampak membuka mata para relawan. Asa, salah satu mahasiswa di Kloter 2, bersaksi betapa luluh lantaknya infrastruktur di sana. Warga harus bertahan dengan fasilitas MCK seadanya dan mengandalkan dapur umum komunal untuk mengisi perut.
Namun, di balik duka kehilangan harta benda, Asa melihat ketangguhan luar biasa dari para penyintas.
“Warganya ramah-ramah banget. Jujur, aku sangat merasakan vibes kampung yang rukun dan suasananya hidup karena banyak anak-anak juga. Tapi, di sini sering banget gempa sampai sekarang, bisa sampai lima kali sehari dan gempanya terasa banget,” ujar Asa.
Trauma masih membayangi warga, membuat mereka enggan kembali ke rumah yang tersisa. Karena itulah, pendirian puskesmas darurat dan tenda pengungsian menjadi fokus utama relawan di lapangan. Pertukaran ilmu pun terjadi secara organik; mahasiswa membawa solusi teknis dan akademis, sementara warga lokal membagikan pemahaman terkait kearifan setempat.
Rantai Solidaritas yang Terus Menyambung
Rantai kebaikan ini dipastikan tak akan terputus. Dalam waktu dekat, pengiriman rombongan lanjutan segera dieksekusi melalui sinergi dengan program Aksara Mahasiswa Berdampak Kemendikti. Fokus utamanya masih sama: mempercepat suplai bantuan logistik dan merampungkan hunian sementara bagi para korban. Gerakan ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian kampus mampu mewujud menjadi pelita bagi mereka yang tengah dirundung duka.
Editor: Agung Bakti Sarasa