Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Perkuat Literasi Keuangan Digital, 10.000 Mahasiswa Baru Unpad Ikut Program Fintech Academy
Advertisement . Scroll to see content

Ekonomi Indonesia Diproyeksikan Tetap Tumbuh di Tengah Kenaikan Harga Energi Global

Senin, 14 September 2026 | 21:11 WIB
  • author Adi Haryanto
Ekonomi Indonesia Diproyeksikan Tetap Tumbuh di Tengah Kenaikan Harga Energi Global
Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz menilai kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memicu tekanan inflasi dan memperketat kondisi keuangan di berbagai negara. Foto/Istimewa

BANDUNG,iNews BandungRaya.id - Perekonomian global diperkirakan masih menghadapi berbagai tantangan menjelang akhir tahun 2026.

Hal itu ditandai dengan tingginya harga energi, suku bunga global yangbertahan tinggi, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Namun Indonesia dinilai tetap berada pada posisi yang relatif kuat untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi, berkat stabilitas makroekonomi yang terjaga, investasi yang terus mengalir, serta dukungan berbagai sektor strategis baru.

Melalui Indonesia’s Economic Outlook 2026 Danamon memaparkan prospek ekonomi Indonesia serta sosialisasi kebijakan Bank Indonesia untuk mendukung pendalaman pasar keuangan dan pengelolaan transaksi valuta asing.

Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk (“Danamon”), Irman Faiz menjelaskan, kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memicu tekanan inflasi dan memperketat kondisi keuangan di berbagai negara.

Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat dari 3,5% pada 2025 menjadi 3,0% pada akhir 2026 sebelum kembali membaik pada 2027, sementara harga minyak yang sempat meningkat signifikan diperkirakan berangsur menurun seiring penyesuaian pasokan global.

"Ekonomi Indonesia diperkirakan tetap tumbuh sekitar 5,2% pada 2026, didukung oleh investasi, belanja pemerintah, aktivitas ekonomi domestik yang masih solid, dan kebijakan pemerintah yang mendorong aktivitas ekonomi nasional," tutur Irman Faiz dalam keterangannya, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, investasi asing langsung (FDI) terus menunjukkan tren positif, terutama pada sektor hilirisasi, industri logam dasar, serta pengembangan pusat data (data center) yang mulai menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.

"Aktivitas investasi tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara peluang dari hilirisasi industri, ekonomi digital, dan pengembangan data center berpotensi menciptakan sumber pertumbuhan baru dalam jangka menengah hingga panjang," ujarnya.

Di sisi lain, Indonesia tetap perlu mewaspadai berbagai risiko eksternal. Defisit transaksi berjalan diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya seiring tingginya impor energi dan perlambatan ekonomi sejumlah mitra dagang utama.

Selain itu, volatilitas pasar keuangan global dan perubahan arah kebijakan moneter negara maju berpotensi memengaruhi pergerakan arus modal dan nilai tukar rupiah.

Untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan nasional, Bank Indonesia terus memperkuat berbagai instrumen kebijakan yang mendukung pendalaman pasar keuangan, khususnya pasar.valuta asing domestik.

Seiring meningkatnya ketidakpastian global dan perubahan arus modal internasional, pasar valuta asing yang lebih dalam, likuid, dan berdaya tahan dinilai semakin penting dalam mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah.

Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Yansen Lokanata menyebutkan, Bank Indonesia telah mengimplementasikan berbagai kebijakan untuk memperkuat pasar valuta asing domestik.

Antara lain melalui pengembangan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction), penyempurnaan ketentuan transaksi pasar valuta asing, hingga implementasi Ketentuan Transaksi Pasar Valas Transaksi Lindung Nilai melalui Bank Mitra (VASTRA).

Kebijakan VASTRA dirancang untuk memperluas akses investor global terhadap instrumen lindung nilai Rupiah di pasar domestik.

Selain memperkuat daya tarik aset keuangan Indonesia, kebijakan ini juga diharapkan dapat meningkatkan likuiditas pasar valuta asing domestik, memperbaiki transparansi transaksi, serta mendukung stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang.

"Berbagai kebijakan yang terus disempurnakan Bank Indonesia bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pasar, memperluas akses investor, serta mendorong terciptanya pasar.keuangan yang lebih inklusif dan berdaya tahan dalam menghadapi dinamika global," jelas Yansen. (*)

Editor: Rizki Maulana

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut