Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Edelweiss Hospital Jemput Bola Hadirkan Layanan Kesehatan Bagi Warga Bandung
Advertisement . Scroll to see content

Kebanyakan Baca Berita Negatif Bisa Bikin Stres, Waspada Bahaya Doomscrolling!

Senin, 21 September 2026 | 11:43 WIB
  • author Susana
Kebanyakan Baca Berita Negatif Bisa Bikin Stres, Waspada Bahaya Doomscrolling!
Direktur Astacita Strategic Consultant, Abizar Machmud. Foto: Ist.

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Tak sedikit orang yang membuka media sosial hanya untuk mencari informasi, tetapi tanpa sadar berakhir berjam-jam mengikuti berbagai kabar buruk, konflik, polemik, hingga perdebatan di ruang digital.

Kebiasaan terus-menerus mengikuti informasi negatif tersebut dikenal dengan istilah doomscrolling. Sejumlah penelitian mengaitkan pola konsumsi berita yang bermasalah atau berlebihan dengan kondisi kesejahteraan mental yang lebih buruk. Studi yang diterbitkan pada 2025, misalnya, menemukan adanya hubungan antara konsumsi berita yang bermasalah dengan kondisi kesehatan mental dan fisik yang lebih buruk.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengingatkan bahwa terlalu banyak mengikuti berita melalui televisi maupun media sosial dapat meningkatkan stres. Karena itu, WHO menyarankan membatasi waktu mengikuti berita apabila aktivitas tersebut mulai meningkatkan tekanan psikologis.

Fenomena tersebut turut menjadi perhatian Direktur Astacita Strategic Consultant, Abizar Machmud.

Menurut Abizar, masyarakat perlu lebih sadar terhadap pola konsumsi informasi di tengah derasnya arus berita melalui media sosial. Paparan narasi negatif secara terus-menerus, menurut dia, dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami kelelahan mental dan kehilangan fokus untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

"Konsumsi berita negatif tanpa jeda membuat sistem saraf berada dalam kondisi tegang secara terus-menerus. Hal ini menaikkan hormon stres yang dalam jangka panjang menurunkan imunitas tubuh dan menguras energi produktif. Masyarakat menjadi mudah lelah, cemas, dan kehilangan fokus untuk berkarya," ujar Abizar.

Sejumlah penelitian memang menunjukkan adanya kaitan antara konsumsi berita negatif atau doomscrolling dengan stres dan kesejahteraan psikologis. Sebuah penelitian terhadap 400 pengguna media sosial menemukan bahwa doomscrolling berkaitan dengan kesejahteraan mental melalui mekanisme seperti secondary traumatic stress dan rendahnya mindfulness.

Karena itu, persoalan yang perlu diperhatikan bukan sekadar apakah seseorang membaca berita negatif, tetapi bagaimana frekuensi, durasi, dan pola seseorang mengonsumsi informasi tersebut.

Ketika Perbedaan Pendapat Dianggap Tidak Peduli

Selain persoalan doomscrolling, Abizar juga menyoroti fenomena lain yang berkembang di media sosial, yakni kecenderungan memberikan label "tone deaf" atau dianggap tidak memiliki empati kepada orang yang memilih tidak ikut dalam arus kemarahan publik.

Menurut Abizar, perbedaan respons terhadap sebuah persoalan sosial tidak semestinya langsung dimaknai sebagai bentuk ketidakpedulian.

Ia menilai setiap orang memiliki cara berbeda dalam merespons informasi, termasuk ketika menghadapi isu yang memicu emosi.

"Masyarakat perlu meluruskan pemahaman ini. Berbeda pendapat atau memilih menjaga jarak dari kebiasaan doomscrolling demi menjaga kesehatan mental bukan berarti seseorang tidak peduli. Memaksa semua orang untuk memiliki sudut pandang dan tingkat kemarahan yang sama adalah narasi yang salah dalam berbangsa," tegasnya.

Abizar menilai keberagaman perspektif justru menjadi bagian penting dalam membangun ruang publik yang sehat.

Dalam konteks media sosial, perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang sulit dihindari. Tantangannya adalah bagaimana perbedaan tersebut tidak berubah menjadi tekanan sosial yang membuat seseorang merasa harus mengikuti emosi mayoritas.

Digital Hygiene Jadi Penting di Era Media Sosial

Derasnya arus informasi membuat masyarakat kini memiliki akses terhadap berita hampir tanpa batas waktu.

Notifikasi datang silih berganti. Satu isu belum selesai dibahas, isu lainnya sudah muncul. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang terus berpindah dari satu informasi ke informasi lain tanpa memberikan jeda bagi dirinya sendiri.

Abizar melalui Astacita Strategic Consultant mengimbau masyarakat mulai menerapkan digital hygiene, yakni kebiasaan mengatur penggunaan perangkat dan informasi digital agar lebih sehat dan terkontrol.

Ada tiga langkah yang ditekankan.

Pertama, menyaring informasi.

Masyarakat dapat membatasi durasi membaca berita berat atau negatif dalam sehari. Bukan berarti menghindari informasi penting, tetapi memberikan batas agar konsumsi informasi tidak berlangsung tanpa jeda.

Langkah tersebut sejalan dengan anjuran WHO yang menyarankan pembatasan waktu mengikuti berita apabila aktivitas tersebut meningkatkan stres.

Kedua, menghormati perbedaan.

Setiap orang memiliki sudut pandang dan cara berbeda dalam merespons sebuah isu. Tidak semua orang harus menunjukkan reaksi emosional yang sama terhadap persoalan yang sedang ramai dibicarakan.

Ketiga, mengalihkan energi ke aksi nyata.

Perdebatan panjang di kolom komentar tidak selalu menghasilkan perubahan. Karena itu, energi yang biasanya habis untuk mengikuti konflik digital dapat dialihkan ke aktivitas yang lebih konkret dan produktif di dunia nyata.

Bukan Berarti Harus Berhenti Membaca Berita

Mengurangi konsumsi berita negatif bukan berarti masyarakat harus menutup diri dari informasi.

Berita tetap memiliki fungsi penting untuk membantu masyarakat memahami berbagai persoalan di lingkungan sekitarnya. Yang perlu diperhatikan adalah pola konsumsinya.

Penelitian mengenai doomscrolling menunjukkan bahwa konsumsi berita negatif secara berulang dapat berkaitan dengan proses psikologis seperti rumination, yakni kecenderungan terus memikirkan hal-hal negatif. Studi lain juga menemukan hubungan antara doomscrolling dengan kesejahteraan mental.

Karena itu, kemampuan memilih informasi menjadi semakin penting di era digital.

Masyarakat tetap membutuhkan berita, tetapi juga membutuhkan jeda.

Pada akhirnya, digital hygiene bukan tentang menghindari informasi, melainkan mengatur hubungan dengan informasi. Dengan membatasi paparan yang membuat stres, tetap membuka ruang bagi perbedaan pendapat, serta mengarahkan energi pada aktivitas produktif, penggunaan media digital dapat menjadi lebih sehat dan terkendali.

Editor: Rizal Fadillah

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut