"Secara data memungkinkan, tetapi secara cuaca cukup berat, apalagi hujan. Kalau di atas 3 derajat dan ada yang melaporkan melihat, itu dapat diterima. Tapi kalau di bawah 3 derajat, mustahil diterima karena visibilitas kurang," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa jika cuaca cerah, hilal mungkin bisa terlihat, memungkinkan awal Ramadan ditetapkan esok hari. Namun, jika kondisi tetap mendung, kemungkinan besar akan terjadi istikmal, yaitu penyempurnaan bulan Syaban menjadi 30 hari, sehingga Ramadhan dimulai lusa.
Sementara itu, Kepala Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Jabar, Encup Supriatna, juga menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan hilal terlihat dari 11 titik pemantauan di provinsi tersebut.
"Berdasarkan hasil observasi ataupun rukyatul hilal yang diselenggarakan di Jawa Barat, khususnya di Al-Biruni sebagai tempat pusat, dan juga kami lagi menunggu laporan di tempat-tempat lain di 11 titik di Jawa Barat, sampai saat ini dilaporkan tidak terlihat. Sekali lagi, tidak terlihat," jelas Prof. Encup.
Ia menegaskan bahwa pengamatan ini dilakukan bersama Kementerian Agama Jabar, Biro Kesra, Rektor Unisba, serta tim ahli dari berbagai institusi. Semua laporan dari titik pemantauan akan diteruskan ke pusat untuk menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat.
Editor : Zhafran Pramoedya
Artikel Terkait