“3M itu menguras, menutup, dan memanfaatkan atau mendaur ulang barang-barang yang bisa jadi tempat berkembangnya nyamuk. Kadang kita sudah menguras dan menutup, tapi lupa memanfaatkan atau menyingkirkan barang yang tidak terpakai,” kata Teuku.
Menurutnya, edukasi menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya memahami konsep pencegahan, tetapi juga konsisten menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, DR. drh. Sugiarto, MSi menegaskan bahwa pengendalian vektor seperti nyamuk Aedes aegypti tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan peran aktif masyarakat.
“Pencegahan DBD harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu rumah dan komunitas. Edukasi, perubahan perilaku, dan aksi nyata adalah kunci,” ujarnya.
Selain talkshow, kegiatan ini juga diramaikan dengan berbagai aktivitas komunitas sebagai bentuk aksi nyata pencegahan DBD, sekaligus pengingat bahwa upaya melawan demam berdarah membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan kesadaran bersama.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
