BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Science x AI Summit 2026 yang diselenggarakan SAIR Foundation di di Silicon Valley, Amerika Serikat pada 12 Mei 2026 lalu, membahas perkembangan dan masa depan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Saat ini, industri AI memasuki era pasca-scaling. Ke depan, AI tak sekadar bisa mengobrol, tetapi mampu menalar.
Sebagai salah satu konferensi dengan pengaruh akademik dan nilai strategis industri AI terbesar di dunia saat ini, Science x AI Summit 2026 menghadirkan sejumlah ilmuwan berlevel Nobel, Turing, dan Fields.
Selain itu, hadir pula para pemimpin inti bidang AI dari perusahaan teknologi seperti Google, Microsoft, OpenAI, Anthropic, dan NVIDIA.
Yang membanggakan, Halim Mahesa Putra PhD dari Indonesia menghadiri konferensi tersebut merepresentasikan pengusaha AI dari Asia.
Di acara tersebut, Halim berkesempatan berdiskusi mendalam dengan institusi penelitian AI global, perwakilan industri, dan investor internasional.
Kehadiran Halim sinyal penting bahwa generasi baru pengusaha AI dari Asia mulai menembus lingkaran diskusi inti AI global.
Dalam beberapa tahun terakhir, persaingan di industri AI lebih banyak berfokus pada jumlah parameter model, skala pelatihan, dan daya komputasi GPU.
Namun, seiring peningkatan biaya pelatihan dan keterbatasan data berkualitas tinggi, banyak pelaku industri menyadari pendekatan yang hanya mengandalkan “menambah parameter dan GPU” tidak lagi cukup untuk menghasilkan peningkatan eksponensial secara berkelanjutan.
Editor : Abdul Basir
Artikel Terkait
