BANDUNG,iNews BandungRaya.id - Persoalan pertanian saat ini cukup banyak, dari rendahnya produktivitas, konversi lahan, hingga regenerasi petani yang minim.
Namun persoalan pertanian Indonesia tidak hanya berkaitan dengan bagaimana hingga pasar.
Di balik target peningkatan produktivitas, terdapat persoalan yang tidak kalah penting, yakni bagaimana pemerintah dapat memastikan terbukanya pasar yang jelas bagi hasil produksi petani.
Ketua Umum Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Indonesia (KASAI), Prof. Achmad Tjachja Nugraha, menilai pembangunan pertanian dalam mengisi kemerdekaan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari produksi hingga pemasaran juga pendidikan.
"Petani tidak hanya membutuhkan dukungan untuk memproduksi. Mereka juga membutuhkan kepastian bahwa hasil produksinya dapat diserap pasar dengan harga yang memberikan keuntungan yang wajar,” kata Prof. Achmad dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya terkait pemasaran pertania, keberhasilan pertanian tidak cukup hanya diukur dari banyaknya hasil panen. Tetapi juga dari kemampuan pemerintah dan pelaku usaha menciptakan pasar yang mampu menyerap produk petani dengan harga yang layak dan mampu menjaga stabilitas pangan.
Ia menjelaskan, petani harus mengeluarkan modal sejak awal untuk menjalankan kegiatan produksi. Mulai dari pembelian benih, pupuk, obat-obatan, pakan, tenaga kerja, hingga biaya pemeliharaan.
Seluruh biaya tersebut dikeluarkan jauh sebelum petani mengetahui secara pasti kondisi pasar dan harga ketika panen tiba. Kestabilan dan proyeksi pasar juga harga yang jelas adalah harapan petani.
Karena itu, pemerintah perlu hadir lebih lincah dalam membuka dan memperluas akses pasar bagi produk pertanian. Dorongan untuk meningkatkan produksi harus berjalan seiring dengan kebijakan yang memastikan terbukanya pasar. Baik melalui penguatan pasar domestik maupun pembukaan akses ke pasar antardaerah dan pasar ekspor.
“Jangan sampai petani didorong untuk meningkatkan produksi, tetapi ketika panen tidak ada kepastian siapa yang membeli dan berapa harga yang diterima petani. Pemerintah perlu memikirkan pasar sejak sebelum petani menanam, bukan baru ketika hasil panen sudah menumpuk,” ucapnya.
Guru Besar Ekonomi Pertanian Program Studi Agribisnis UIN Jakarta ini menyebutkan, perencanaan produksi seharusnya memperhitungkan kebutuhan pasar. Petani perlu mengetahui siapa calon pembelinya, berapa kebutuhan pasar, standar kualitas yang diperlukan, serta mekanisme harga sebelum menentukan volume produksi.
Dengan demikian, keputusan produksi tidak hanya berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan informasi permintaan yang nyata. Ia menilai pemerintah dapat mendorong terbentuknya kemitraan antara petani dengan koperasi, pelaku usaha, industri pengolahan maupun pembeli utama atau offtaker.
Kemitraan tersebut perlu dibangun secara sehat dan transparan sehingga tidak hanya menguntungkan pembeli, tetapi juga memberikan kepastian penyerapan dan harga yang wajar bagi petani.
Selain memperkuat pasar yang sudah ada, pemerintah juga perlu terus mencari pasar baru untuk produk pertanian Indonesia.
Pembukaan pasar antardaerah, penguatan perdagangan antarwilayah, hingga perluasan akses ekspor dapat menjadi bagian dari strategi agar peningkatan produksi tidak berujung pada kelebihan pasokan di satu wilayah.
Prof. Achmad juga menilai sistem informasi pasar perlu diperkuat agar petani tidak hanya mengetahui harga ketika hasil panennya sudah siap dijual.
Informasi mengenai harga, permintaan, kebutuhan industri, volume pasokan dan peluang pasar antardaerah akan membantu petani menentukan komoditas serta jumlah produksi secara lebih rasional.
Pemerintah juga harus memperhatikan infrastruktur pascapanen, penyimpanan, distribusi, transportasi, industri pengolahan serta jaringan pemasaran agar produk petani dapat bergerak dari sentra produksi menuju konsumen secara efisien.
“Ukuran keberhasilan pembangunan pertanian bukan hanya berapa banyak yang berhasil diproduksi. Kita juga harus melihat apakah produk tersebut terserap pasar dan apakah hasilnya mampu memberikan pendapatan yang layak bagi petani,” pungkasnya. (*)
Editor : Rizki Maulana
Artikel Terkait
