Namun bagi Doni, esensi sejati dari perayaan ini bukan sebatas kemegahan karnaval semata, melainkan konsistensi merawat tali silaturahmi yang telah terjalin selama setengah abad.
"Kita rayakan dan kita juga banyak yang sudah meninggalkan kita, kita ingatkan. Sekali teman tetap teman. Kalau bisa bersaudara kita. Jadi guyub," ujarnya.
Jejak Sosial dan Refleksi Masa Depan Pendidikan
Ketua Angkatan ITB 76, Wahyu Wijayadi, menjelaskan bahwa rangkaian reuni 50 tahun ini diisi oleh berbagai agenda produktif. Sebelum ajang parade budaya digelar, para alumni telah melangsungkan pameran seni dan fotografi, aksi donor darah, simposium, kegiatan olahraga, hingga beragam bakti sosial.
Hebatnya lagi, persahabatan lima dekade ini melahirkan ikatan abadi yang bermanfaat bagi publik luas. Salah satu peninggalan nyatanya adalah pembangunan Masjid ITB 76 di wilayah Gunungkidul, DIY, hibah buku-buku teknik untuk perpustakaan kampus, serta penyerahan karya patung dari seniman alumni Seni Rupa 1976, Ketut Winata.
Kendati merayakan masa lalu, Wahyu tetap memberikan pesan tajam bagi keberlangsungan almamaternya agar tak gagap menghadapi era modern.
“Kampus harus berubah. Jangan alergi terhadap perubahan, enggak usah takut dengan perubahan,” ujarnya.
Ia menambahkan, institusi pendidikan tinggi wajib menyesuaikan diri dengan dinamika industri agar para lulusannya tidak terasing ketika diterjunkan langsung ke masyarakat.
“Cepat atau lambat begitu keluar dari kampus kita masuk dunia industri. Di situlah kita betul-betul kampus dunia, bukan kampus sekolahan. Yang menilai kita adalah masyarakat,” katanya.
Momentum berharga ini pun menutup kerinduan mendalam para alumni akan memori masa muda mereka saat masih menapaki kampus ganesha, terutama kenangan ikonis di sekitar Aula Barat.
“Kenangan masa lalu terulang kembali, terkuak kembali. Kenangan indah masa lalu yang lama. Kita, kan dulu di ospek di sini, pada botak-botak," ujarnya.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
