Dalam jambore ini, peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan teori, tetapi ditantang menerapkan kemampuan mereka melalui simulasi. Penanganan dimulai dari lokasi kejadian hingga proses evakuasi dan penanganan korban di rumah sakit yang telah disiapkan sebagai bagian dari simulasi.
“Jambore ini mendukung visi kita terkait dengan kedaruratan dan manajemen bencana. Ini merupakan kegiatan lomba, bagaimana satu tim itu bisa menangani bencana dalam bentuk simulasi, dimulai dari penanganan di lapangan sampai kemudian dibawa ke rumah sakit. Jadi kami sudah siapkan simulasi rumah sakitnya juga,” katanya.
Diikuti Peserta dari Indonesia hingga Prancis
Jambore tersebut diikuti peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Beberapa di antaranya berasal dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Islam Bandung (Unisba), serta sejumlah perguruan tinggi lainnya.
Selain mahasiswa dari berbagai kampus, kegiatan juga melibatkan kelompok yang bergerak di bidang kegawatdaruratan, seperti PSC Siaga Cepat dan KSR. Sementara dari luar negeri, terdapat satu peserta yang berasal dari Prancis.
Iis menilai kemampuan menghadapi bencana penting dikuasai calon tenaga medis. Sebab, kondisi bencana membutuhkan kesiapan yang lebih luas daripada sekadar memberikan pertolongan kepada korban.
“Di sinilah FK Unjani mempunyai peran untuk bisa membekali mereka supaya pada saat bencana datang kita sudah siap siaga dan dengan materi yang tepat bisa menangani bencana dengan baik,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa penanganan bencana juga mencakup kesiapan logistik dan berbagai kebutuhan pendukung lainnya. Menurutnya, kesiapan tersebut harus dibangun sebelum bencana terjadi.
“Bencana itu bukan hanya tentang mengobati yang luka, tetapi bagaimana kita bisa menyiapkan logistik dan berbagai kebutuhan yang ada di sana, sehingga pada saat bencana datang semua sudah siap dengan apa yang harus dilakukan,” katanya.
Editor : Rizal Fadillah
Artikel Terkait
