Misteri Dentuman Dini Hari di Bandung Terjawab: Erupsi Menerus Anak Krakatau Capai Level Siaga

Aga Gustiana
Erupsi Gunung Anak Krakatau. (Foto: PVMBG)

Lana menambahkan bahwa fenomena visual yang memancarkan pendaran merah di kegelapan malam tersebut merupakan pancaran air mancur lava.

"Fenomena erupsi ini menyerupai "lava fountain" atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava. Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi," ucapnya.

Kendati kepulan asap dan suara gema sempat membakar rasa khawatir publik akan ancaman gelombang tinggi, Badan Geologi menegaskan bahwa bentuk fisik gunung saat ini belum mengarah pada potensi bahaya tsunami seperti masa lalu.

"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat meurutnya, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif," jelasnya.

Saat ini, tingkat kewaspadaan Gunung Anak Krakatau bertahan kuat di Level III (Siaga). Publik diminta tetap tenang dan mewaspadai radius bahaya utama berupa semburan material panas serta pijar lava.

"Hingga saat ini, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau masih dalam Level III (Siaga). Potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertain dengan lontaran batu pijar," pungkasnya.

Editor : Agung Bakti Sarasa

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network