Menurutnya, kemunculan gempa swarm dapat berkaitan dengan proses pergeseran sesar. Selain itu, fenomena tersebut juga dapat berhubungan dengan dinamika lingkungan vulkanik maupun hidrotermal, tergantung kondisi tektonik di wilayah yang mengalami aktivitas.
Meski demikian, Daryono menegaskan bahwa kemunculan gempa swarm tidak secara otomatis berarti akan terjadi gempa besar.
Fenomena tersebut dapat mereda secara bertahap. Karena itu, pola aktivitas gempa perlu dipantau berdasarkan data seismologi secara berkelanjutan dan tidak hanya dilihat dari jumlah kejadian gempa.
"Fenomena gempa swarm tidak selalu berarti aktivitas gempa akan terus membesar. Sebagian dari rangkaian pada fenomena gempa swarm dapat mereda secara bertahap," katanya.
Daryono menambahkan, pemantauan secara terus-menerus diperlukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas seismik di wilayah Kabupaten Bandung.
Editor : Rizal Fadillah
Artikel Terkait
