BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Mempertahankan usaha kuliner selama lebih dari satu dekade bukan perkara mudah, terutama di tengah persaingan bisnis makanan dan kenaikan harga bahan baku. Namun, Warung Imah Babaturan tetap bertahan dengan identitasnya sebagai tempat makan yang menyajikan masakan rumahan di Kota Bandung.
Memasuki tahun ke-11 pada 2026, Imah Babaturan terus mengandalkan menu yang akrab dengan keseharian masyarakat. Selain menyajikan makanan, warung ini berupaya menghadirkan suasana hangat layaknya bersantap di rumah sendiri.
Perjalanan usaha tersebut dibagikan dalam kegiatan media gathering bersama sejumlah awak media di Imah Babaturan cabang Tamansari, Kota Bandung. Dalam kesempatan itu, pemilik Imah Babaturan, Mohammad Nurul Hudha dan Anggia Bonyta, menceritakan perjalanan usaha yang mereka bangun sejak 2015.
Nama Imah Babaturan berasal dari bahasa Sunda yang berarti rumah teman. Filosofi tersebut menggambarkan konsep yang diusung sejak awal, yakni tempat makan dengan suasana akrab dan sajian yang mengingatkan pelanggan pada masakan rumahan.
Di tengah tren kuliner yang terus berkembang, konsep sederhana itu menjadi identitas yang tetap dipertahankan. Namun, perjalanan selama 11 tahun bukan tanpa tantangan, terutama ketika kenaikan harga bahan pangan mulai menekan keuntungan usaha.
Editor : Rizal Fadillah
Artikel Terkait
