Selain kompetensi digital, mahasiswa juga dibekali kemampuan bahasa asing, terutama bahasa Inggris dan bahasa internasional lainnya yang dibutuhkan dalam dunia kerja.
"Yang kedua, kita juga bekali mereka dengan kemampuan bahasa. Bahasa Inggris, bahasa asing, dan sebagainya. Pokoknya bahasa-bahasa internasional yang diakui oleh PBB. Karena sekarang kemampuan bahasa itu juga sangat menentukan di dunia kerja, dibutuhkan," katanya.
Agus menambahkan, pembinaan mental dan karakter menjadi bagian penting dalam proses pendidikan di Unjani. Mahasiswa didorong memiliki kedisiplinan, keuletan, kejujuran, serta keterampilan nonteknis atau soft skill.
"Disiplin, loyal, dan santun itu adalah bagian yang harus dimiliki oleh setiap lulusan agar supaya lulusan itu kemudian cepat bekerja dan beradaptasi," tuturnya.
Dorong Mahasiswa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak hanya mempersiapkan lulusan untuk bekerja di perusahaan atau instansi, Unjani juga mendorong mahasiswa mengembangkan jiwa kewirausahaan.
Agus menyebut Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unjani memiliki program pelatihan kewirausahaan, termasuk simulator bisnis untuk melatih mahasiswa memahami proses membangun dan mengembangkan usaha.
"Kalau mereka misalnya tidak berada di dunia kerja, dunia usaha, dunia industri, dan sebagainya, mereka menciptakan pekerjaan sendiri," ujarnya.
Menurut Agus, mahasiswa perlu didorong untuk memanfaatkan peluang usaha, termasuk melalui pengembangan perusahaan rintisan atau startup dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Kita ingin mereka didorong untuk memiliki jiwa-jiwa entrepreneurship," katanya.
Agus berharap kombinasi kompetensi digital, kemampuan bahasa, pembentukan karakter, pelatihan kewirausahaan, dan pengalaman magang dapat meningkatkan kesiapan lulusan menghadapi persaingan dunia kerja.
Editor : Rizal Fadillah
Artikel Terkait
