Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Dari Cianjur 1834 hingga Lokatmala Living Heritage 2026: Merawat Ingatan, Menghidupkan Warisan
Advertisement . Scroll to see content

Sejarah Hari Raya Nyepi, Perayaan Keagamaan Umat Hindu Sambut Tahun Baru Saka

Senin, 11 Maret 2024 | 11:06 WIB
  • author Rizal Fadillah
Sejarah Hari Raya Nyepi, Perayaan Keagamaan Umat Hindu Sambut Tahun Baru Saka
Hari Raya Nyepi. (Foto: The Guardian)

Tapi yang paling banyak dilakukan adalah di segara karena sekalian untuk nunas tirtha amerta (tirtha yang memberi kehidupan) ngamet sarining amerta ring telenging segara.

Dalam Rg Weda II. 35.3 dinyatakan Apam napatam paritasthur apah(Air yang murni baik dan mata air maupun dan laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan).

2. Menghaturkan bhakti/pemujaan

Di Balai Agung atau Pura Desa di setiap desa pakraman, setelah kembali dari mekiyis.

3. Tawur Agung/mecaru

Di setiap catus pata (perempatan) desa/pemukiman, lambang menjaga keseimbangan. Keseimbangan buana alit, buana agung, keseimbangan Dewa, manusia Bhuta, sekaligus merubah kekuatan bhuta menjadi div/dewa (nyomiang bhuta) yang diharapkan dapat memberi kedamaian, kesejahteraan dan kerahayuan jagat (bhuana agung bhuana alit).

Dilanjutkan pula dengan acara ngerupuk/mebuu-buu di setiap rumah tangga, guna membersihkan lingkungan dari pengaruh bhutakala. Belakangan acara ngerupuk disertai juga dengan ogoh-ogoh (symbol bhutakala) sebagai kreativitas seni dan gelar budaya serta simbolisasi bhutakala yang akan disomyakan. (Namun terkadang sifat bhutanya masih tersisa pada orangnya)

Editor: Rizal Fadillah

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut