Mahasiswa dan Dosen Turun Tangan, Ilmu Pengetahuan Jadi Solusi Pembangunan
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, pembangunan tidak lagi dapat dipahami semata sebagai pertumbuhan angka. Perang yang berkepanjangan, ketegangan geopolitik, rapuhnya kepercayaan antarnegara, serta disrupsi teknologi yang bergerak cepat telah mengubah cara dunia memandang masa depan.
Dalam konteks inilah stabilitas-politik, sosial, dan hukum-kembali disadari sebagai fondasi paling mendasar bagi kemajuan ekonomi dan kesejahteraan.
Pesan tersebut mengemuka kuat dalam pidato Presiden Republik Indonesia di panggung World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss, 22 Januari 2026. Pembangunan ditegaskan tidak cukup bertumpu pada capaian makroekonomi, tetapi harus berpijak pada stabilitas, kredibilitas, dan keadilan sebagai prasyarat keberlanjutan.
Pertumbuhan, dalam konteks ini, hanya akan bermakna apabila manfaatnya dirasakan secara luas, terutama oleh kelompok yang selama ini berada di pinggiran arus pembangunan.
Bagi Indonesia, pesan itu memiliki resonansi tersendiri. Bukan semata karena disampaikan di forum global, melainkan karena Indonesia tengah berada pada fase krusial: menata ulang orientasi pembangunan agar tidak berhenti pada indikator statistik, tetapi menjawab persoalan nyata masyarakat.
Yang patut diapresiasi, dalam setahun terakhir pendekatan pembangunan nasional menunjukkan pergeseran penting. Pemerintah semakin menyadari bahwa kompleksitas tantangan bangsa tidak dapat dijawab secara sektoral dan birokratis semata.
Editor : Rizal Fadillah