Danantara Sumber Daya Indonesia Dinilai Berpotensi Jadi Kartel Baru, Ini Peringatan Ahli
Usul Bentuk National Commodity Intelligence Agency
Sebagai alternatif, Achmad mengusulkan pembentukan National Commodity Intelligence Agency berbentuk Badan Layanan Umum (BLU).
Lembaga tersebut berfungsi sebagai pengawas, validator harga, detektor transfer pricing berbasis AI, pengawas devisa hasil ekspor (DHE), sekaligus wali data ekspor nasional.
Dalam konsep tersebut terdapat empat direktorat utama, yakni Direktorat Intelijen Harga Global, Direktorat AI Anti Transfer Pricing, Direktorat Wali Data Ekspor, dan Direktorat Manajemen Risiko Ekspor.
"DSI tidak perlu menjadi eksportir tunggal. DSI cukup menjadi National Commodity Intelligence Agency yang bertugas memvalidasi harga, mendeteksi transfer pricing dengan AI, mengawasi DHE, dan menjadi wali data ekspor," ujarnya.
Belajar dari Botswana dan Maroko
Achmad juga mencontohkan keberhasilan Botswana dan Maroko dalam mengelola komoditas strategis tanpa menerapkan monopoli ekspor.
Botswana mengembangkan Diamond Trading Company Botswana bersama De Beers sebagai pusat penilaian dan fasilitasi perdagangan intan. Sementara Maroko mengembangkan OCP Group melalui strategi hilirisasi dan inovasi industri.
Menurutnya, kedua negara membuktikan bahwa peningkatan nilai ekonomi sumber daya alam dapat dilakukan tanpa menjadikan negara sebagai eksportir tunggal.
"Saya tidak ingin melihat DSI gagal. Saya ingin DSI menjadi alat negara yang efektif, bukan monster baru yang justru menciptakan masalah lebih besar dari yang hendak diselesaikan," pungkasnya.
Editor : Rizal Fadillah