Forum Lintas Industri di Bandung Hadirkan Ruang Baru bagi Pelaku Kuliner dan Kreatif
"Tahun 2023 kami mengundang sekitar 50 orang, tetapi yang datang hampir 200 orang. Tahun 2024 berkembang menjadi sekitar 700 peserta dan pada 2025 jumlahnya hampir mencapai 2.500 orang," ujarnya.
Animo yang meledak dari tahun ke tahun menjadi indikator kuat bahwa para mata rantai industri—mulai dari pemilik modal, pekerja garis depan (frontliner), pemasok bahan baku, hingga konten kreator—memang mendambakan satu ekosistem hulu-ke-hilir yang inklusif dan saling menguatkan.
Hal inilah yang mendorong Industry Night mengepakkan sayap keluar Jakarta melalui tur khusus. Mereka membidik kota-kota dengan pertumbuhan penetrasi pasar kuliner paling progresif, di mana Bandung dan Bali dipilih sebagai destinasi utama sebelum nantinya bermuara pada selebrasi puncak di ibu kota.
Di mata Ray, Bandung memiliki modal sosial yang luar biasa dalam hal kedewasaan ekosistem bisnisnya.
"Bandung, Jakarta, dan Bali menurut saya komunitasnya sudah sangat terbentuk. Para pelaku usaha, pekerja, supplier, dan pemilik bisnis saling berkomunikasi dan berkolaborasi tanpa harus saling bersaing secara berlebihan. Itu yang membuat ekosistemnya tumbuh," katanya.
Sinergi Nyata: Kunci Menembus Tantangan Ekonomi Makro
Lebih jauh, Ray tidak menampik bahwa iklim bisnis pascapandemi belum sepenuhnya pulih ke performa terbaiknya. Ditambah lagi dengan tantangan ekonomi makro saat ini, mengisolasi diri atau sekadar mengandalkan strategi konvensional dinilai tidak lagi cukup untuk membuat bisnis bertahan panjang.
"Kalau melihat bisnis secara umum, banyak yang belum kembali 100 persen seperti sebelum pandemi. Karena itu kolaborasi menjadi sangat penting, bukan hanya untuk bisnis masing-masing, tetapi juga untuk memperkuat industri F&B secara keseluruhan," ujarnya.
Editor : Rizal Fadillah