Niat Berantas Rokok Bodong Lewat Cukai Murah Dikritik Pedas, BCW: Buka Datanya Ke Publik!
Kecenderungan konsumen maupun produsen untuk beralih ke Golongan CHT berkadar tarif lebih murah (downtrading) turut menjadi kekhawatiran utama. Menkeu Purbaya sempat menepis potensi timbulnya downtrading dengan alasan hal itu bergantung pada selera pasar, serta berjanji bakal mengatur selisih tarif agar tidak saling bertabrakan.
Namun, mengingat besaran angka untuk layer anyar ini belum diresmikan akibat belum dibahas bersama Komisi XI DPR, Eko mendesak pemerintah agar memaparkan simulasi akademis teruji ketimbang berasumsi.
“Kalau pemerintah mengatakan tidak akan terjadi downtrading, tunjukkan simulasinya. Berapa gap tarifnya, bagaimana elastisitas harganya, bagaimana perpindahan konsumen antargolongan, bagaimana dampaknya terhadap SKT dan SKM, serta bagaimana dampaknya terhadap penerimaan negara. Kebijakan fiskal harus bisa diuji dengan angka, bukan hanya dengan optimisme,” tegasnya.
Eko mengingatkan agar Kementerian Keuangan tidak membiasakan pola pembuatan regulasi yang terbalik: menetapkan keputusan politik terlebih dahulu, baru kemudian sibuk mencari pembenaran data pendukungnya.
“Jangan membuat kebijakannya terlebih dahulu, baru kemudian mencari pembenaran datanya. Seharusnya data dibuka, masalah dipetakan, alternatif kebijakan diuji, dampaknya disimulasikan, baru pemerintah mengambil keputusan,” kata Eko TW.
Kriteria mengenai siapa sebenarnya yang berhak masuk ke dalam layer baru ini juga dianggap masih abu-abu. Pasalnya, perlakuan hukum untuk pabrik tanpa izin resmi tentu tidak bisa disamakan dengan distributor rokok tanpa pita cukai maupun produsen resmi yang bermain curang.
“Jangan sampai layer baru berubah menjadi karpet merah bagi pelaku ilegal tanpa mekanisme transisi, verifikasi dan pengawasan yang ketat. Negara boleh memberikan jalan untuk menjadi legal, tetapi tidak boleh menciptakan insentif bahwa melanggar terlebih dahulu justru lebih menguntungkan daripada patuh sejak awal,” ujar Eko.
Editor : Agung Bakti Sarasa