Kemarau Ancam Kabupaten Bandung, Ratusan Hektare Lahan Terbakar hingga Krisis Air Bersih Mengintai
Lebih lanjut, KDS memberikan perhatian khusus pada daerah-daerah periferi yang memiliki bentang geografis luas dan jarak tempuh cukup jauh dari pusat kota, seperti Kecamatan Kertasari dan Pacet. Menurutnya, percepatan waktu tanggap (response time) sangat bergantung pada pemerataan posko siaga.
Sebagai langkah konkret, KDS mendorong realisasi pembangunan Pos Damkar baru di kawasan Bojongsoang. Ia menyebutkan bahwa pemerintah daerah telah mengamankan aset lahan yang siap dialihfungsikan dan pembiayaannya bisa segera dikaji melalui pos Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Kalau bisa bangunkan dengan dana APBD,” ujarnya.
Bahaya musim kemarau ternyata tidak berhenti pada ancaman kebakaran semata. Dalam forum rakor yang sama, KDS turut menginstruksikan seluruh instansi terkait untuk sigap memetakan wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami darurat kekeringan air bersih sebelum dampaknya meluas ke tengah masyarakat.
Instruksi tersebut dikeluarkan menyusul laporan penurunan drastis debit air pada sumber-sumber Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di kawasan Bandung Selatan yang anjlok hingga menyentuh angka 50 persen.
“Antisipasi wilayah mana saja yang rawan krisis air bersih,” tegas KDS, menekankan pentingnya langkah antisipasi dini berupa penyiapan armada mobil tangki distribusi air bersih agar warga tidak sampai mengalami kesulitan parah.
Catatan berkala dari Dinas Pemadam Kebakaran mencatat tren eskalasi yang cukup mengkhawatirkan sepanjang periode kering tahun ini. Menjelang penghujung Agustus 2026, akumulasi laporan kebakaran telah menyentuh angka 468 kasus, di mana puncak tersibuk terjadi pada bulan Juli (135 kejadian) dan Agustus (134 kejadian) yang sebagian besar didominasi oleh kebakaran ilalang serta lahan kosong.
Memasuki pekan pertama bulan September saja, puluhan laporan insiden darurat kembali masuk. Rangkaian data ini mempertegas instruksi KDS agar seluruh lini birokrasi dan tim kebencanaan tidak bekerja secara reaktif, melainkan memperkuat fondasi preventif melalui pemetaan risiko yang matang serta jaminan fasilitas tugas yang layak.
Editor: Agung Bakti Sarasa