Angkat Fenomena Cosplay Hantu Braga, Film Conjurig Hadirkan Kisah Pencarian Jati Diri
“Sebenarnya Asep ini sama kayak Anyun di kehidupan sehari-hari, cuma ganti nama doang lah, yang senang menghibur, senang bercanda,” katanya.
Meski karakternya terasa dekat, Anyun tetap menghadapi tantangan saat harus tampil sebagai hantu dengan kepala buntung. Proses tata rias menjadi salah satu bagian yang membutuhkan waktu cukup lama.
“Make-up-nya itu tuh yang agak lama tuh. Kita harus dua jam lah ya. Apalagi Anyun pakai softlens yang merah, nah itu yang agak susah tuh,” tuturnya.
Terinspirasi Komunitas Cosplay Hantu di Braga
Film Conjurig disutradarai Tubagus Deddy dengan inspirasi dari komunitas cosplay hantu yang beraktivitas di kawasan Braga, Kota Bandung.
Menurut Deddy, komunitas tersebut memiliki latar belakang beragam. Sebagian menjadikan aktivitas cosplay sebagai sumber penghasilan, sementara yang lain melakukannya untuk bersenang-senang dan mengekspresikan diri.
Dari fenomena itu, ia mengembangkan cerita yang mempertemukan kehidupan para cosplayer dengan perjalanan pencarian jati diri.
Film ini mengikuti kisah Pi'it, yang diperankan Dito Darmawan. Setelah kehilangan pekerjaan dan menghadapi persoalan kehidupan pribadi, Pi'it kembali ke Bandung. Ia kemudian bertemu dengan Asep dan bergabung dengan komunitas cosplay jurig.
Dito mengatakan perjalanan Pi'it menggambarkan kebingungan yang kerap dialami anak muda ketika memasuki masa dewasa, terutama dalam menentukan pekerjaan, passion, dan menghadapi persoalan pribadi.
“Film ini bikin penonton akan relate sama kebingungan, apalagi yang usia-usia remaja menuju dewasa. Itu kan banyak mentoknya tuh sama pekerjaan, passion, atau kehidupan pribadi,” kata Dito.
Editor: Rizal Fadillah