Melihat Inovasi Pesantren di Bandung, Padukan Kurikulum Agama dan Kemandirian Ekonomi
“Yang penting dalam pemberdayaan adalah bagaimana anak-anak ini tidak hanya disiapkan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang dan mengembangkan potensi yang ada di sekitarnya,” katanya.
Salah satu daya tarik utama dari kawasan ini adalah pengelolaan komoditas kopi Arabika yang terbentang di atas lahan seluas belasan hektare. Berkolaborasi dengan Kelompok Tani Putra Manglayang, produktivitas kopi di kawasan tersebut mencatatkan angka fantastis hingga mencapai 50 ton pada tahun 2026. Dari jumlah tersebut, sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, sementara sisanya telah diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Kondisi ini dinilai membuka ruang lebar bagi peningkatan kapasitas hilirisasi dan perluasan pasar.
“Di sini kita melihat bagaimana potensi lokal bisa menjadi sumber pemberdayaan. Bukan hanya menghasilkan komoditas, tetapi bagaimana masyarakat memiliki kemampuan untuk mengolah, meningkatkan nilai tambah, dan mendapatkan manfaat yang lebih besar,” ujar Menko Muhaimin.
Tidak hanya fokus pada komoditas unggulan, kawasan ini juga menerapkan sistem pertanian berkelanjutan, pengolahan sampah menjadi kompos, hingga budidaya maggot. Seluruh rangkaian aktivitas tersebut berfungsi sebagai laboratorium hidup bagi para santri untuk menyelesaikan persoalan lingkungan sekaligus mengasah jiwa kewirausahaan.
Menko Muhaimin berpandangan bahwa inisiatif mandiri yang lahir dari rumput masyarakat seperti ini tidak perlu diambil alih oleh negara, melainkan diperkuat melalui kolaborasi dan pendampingan agar dampak positifnya meluas. Harapannya, model serupa dapat direplikasi oleh pesantren-pesantren lain di berbagai penjuru nusantara sesuai dengan keunggulan geografis masing-masing daerah.
Editor: Agung Bakti Sarasa