Sementara itu, semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi pengingat bahwa perbedaan adalah keniscayaan dalam kehidupan berbangsa. Yang perlu dijaga, menurut Azis, adalah cara menyikapi perbedaan tersebut agar tidak berubah menjadi konflik.
“Berbeda itu suatu hal yang biasa. Yang tidak boleh itu saling terpecah belah karena perbedaan,” kata Anggota DPR RI Dapil Kabupaten Cianjur–Kota Bogor ini.
Dalam kesempatan tersebut, Azis juga memberikan perhatian khusus kepada generasi muda. Ia menilai anak muda memiliki peran strategis karena menjadi kelompok pengguna media sosial paling aktif. Dengan posisi itu, generasi muda dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kualitas ruang digital.
Ia mendorong anak muda agar tidak sekadar menjadi penerima informasi, tetapi turut berperan aktif dalam meluruskan disinformasi serta menyebarkan pesan-pesan yang membangun.
“Anak muda jangan hanya jadi konsumen informasi, tapi juga penjaga ruang digital agar tetap sehat, beretika, dan inklusif,” kata Azis.
Lebih jauh, Azis berharap kegiatan sosialisasi Empat Pilar tidak berhenti pada tataran wacana atau hafalan semata. Ia menekankan pentingnya penerapan nilai-nilai kebangsaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat bermedia sosial.
Dengan menjadikan Empat Pilar sebagai pedoman, masyarakat diharapkan mampu bersikap kritis terhadap informasi tanpa kehilangan semangat persatuan, toleransi, dan saling menghargai. Di tengah kebebasan berekspresi di era digital, Azis menegaskan bahwa tanggung jawab kebangsaan tetap harus dijaga bersama.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
