Mahasiswa dan Dosen Turun Tangan, Ilmu Pengetahuan Jadi Solusi Pembangunan

Susana
Muhammad Fajar Shiddieq, Staf Khusus Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi Bidang Media dan Komunikasi. Foto: Ist.

Negara tidak lagi berjalan sendiri, melainkan membuka ruang kolaborasi lintas aktor-dunia usaha, masyarakat sipil, dan yang semakin menonjol, komunitas keilmuan.

Di titik inilah, perguruan tinggi dan sivitas akademika di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mulai ditempatkan sebagai bagian dari solusi pembangunan, bukan sekadar pengamat kebijakan dari kejauhan.

Pendekatan ini menandai perubahan cara pandang terhadap ilmu pengetahuan: bukan pelengkap, melainkan fondasi dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Riset, inovasi, dan pendidikan tinggi diposisikan sebagai investasi produktivitas jangka panjang. Presiden Prabowo menegaskan bahwa tidak ada negara yang dapat stabil dan makmur apabila rakyatnya tidak mampu mengikuti perkembangan sains dan teknologi modern. Karena itu, pembangunan manusia ditempatkan sebagai kunci utama bagi pertumbuhan yang adil dan berkelanjutan.

Besarnya potensi pendidikan tinggi Indonesia memperkuat argumen tersebut. Dengan lebih dari 4.600 perguruan tinggi, sekitar 9 juta mahasiswa, serta ratusan ribu dosen dan tenaga kependidikan, pendidikan tinggi Indonesia sesungguhnya merupakan salah satu ekosistem ilmu pengetahuan terbesar di kawasan.

Potensi ini menjadi modal strategis apabila diarahkan secara konsisten untuk menjawab kebutuhan pembangunan nasional.

Editor : Rizal Fadillah

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3 4 5

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network