Namun, Zulfan memperingatkan bahwa peluang besar ini hanya bisa dimanfaatkan bila generasi muda memahami sepenuhnya perannya. Menurutnya, tanpa kesiapan SDM yang memadai, agenda transisi energi berisiko gagal di tengah jalan.
“Kami tidak ingin pestanya sudah dimulai, tetapi kita hanya menjadi penonton. Generasi muda harus paham apa itu transisi energi dan apa itu energi terbarukan yang akan dibangun,” tegasnya.
Melalui program METI Energi Muda, Zulfan berharap muncul generasi muda yang memiliki wawasan, keberanian, dan kemampuan menawarkan solusi nyata di sektor energi.
“Kami tidak membatasi kuota. Semakin banyak anak muda yang terlibat semakin baik. Ini opportunity yang harus dijaga bersama oleh semua stakeholder,” ujar Zulfan.
Selain itu, METI menyoroti pentingnya perbaikan ekosistem regulasi dan perizinan. Zulfan menekankan, percepatan energi terbarukan harus diiringi kepastian hukum, termasuk penyesuaian Perpres 112, penyempurnaan mekanisme pengadaan, dan percepatan pengesahan UU Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBET).
“Izin lingkungan seharusnya menjadi syarat utama dalam pengadaan. Jangan sampai ada pengembang yang sudah mendapatkan PPA tetapi belum memiliki izin lingkungan. Ini berpotensi menimbulkan longsor, pembalakan hutan, atau bencana lainnya,” katanya.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
