Perwakilan Masyarakat Tionghoa Peduli (MTP) dan Paguyubang Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Djoni Toat mengapresiasi inisiator pembangunan Monumen Cagar Budaya Cikadut.
"Menurut kami ini untuk semua golongan dan agama. Bukan Tionghoa saja. Kebiasaan di kami nyekar kalau di Tionghoa namanya cengbeng, yaitu, menghormati leluhur. Tanpa ada leluhur, kita tidak ada di sini," kata Djoni Toat.
Djoni menyatakan, masyarakat Tionghoa sangat berterima kasih kepada warga sekitar, Pemkot Bandung, dan Pemkab Bandung yang turut menjaga keberadaan TPU Cikadut.
Tujuan pendirian Monumen Cagar Budaya Cikadut, ujar Djoni Toat, agar TPU Cikadut dilestarikan. Jangan sampai ditelantarkan. Bahkan ke depan ada wacana TPU Cikadut jadi objek wisata.
"Insya Allah, kalau pengunjungnya ramai karena menjadi objek wisata, akan ada kafe berdiri di sini," ujarnya.
Sementara itu, sesepuh masyarakat Tionghoa H Oting Hambali yang akrab disapa Abah Oting mengatakan, peresmian Monumen Cagar Budaya Cikadut merupakan bagian dari upaya merawat dan melestarikan makam-makam di TPU Cikadut.
"Keberadaan TPU Cikadut sudah lebih dari 100 tahun. Tujuan pembangunan monumen ini untuk menghormati (leluhur)," kata Abah Oting.
Tokoh Tionghoa, Djoni Toat menunjukkan tugu cengbeng di Monumen Cagar Budaya Cikadut.
Editor : Abdul Basir
Artikel Terkait
