BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Gelombang protes mahasiswa kembali mengguncang pusat pemerintahan Jawa Barat. Ratusan aktivis yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Barat memadati area depan Gedung Sate pada Kamis (21/5/2026). Dalam aksi massa ini, mereka menuntut evaluasi total terhadap roda pemerintahan daerah yang dinilai masih menyisakan tumpukan rapor merah di sektor-sektor krusial.
Massa aksi menyoroti kegagalan pemerintah dalam mengentaskan problem mendasar masyarakat, mulai dari ketimpangan kualitas pendidikan, fasilitas medis yang buruk, hingga beban ekonomi berupa problem kemiskinan dan lapangan kerja yang tak kunjung terurai.
Ketua PKC PMII Jawa Barat, Rusli Hermawan, mengungkapkan bahwa gerakan ini didasari oleh riset dan kajian mendalam yang dilakukan oleh internalnya sepanjang delapan belas bulan terakhir. Berdasarkan evaluasi tersebut, arah kebijakan pembangunan di bawah nakhoda Pemprov Jabar dianggap salah kaprah karena terlalu berorientasi pada proyek fisik dan meminggirkan pemenuhan hak-hak primer warga.
“Kita mengadakan penelaahan secara serius bahwa selama satu tahun setengah Pemerintah Provinsi Jawa Barat keterfokusan pembangunannya hanya pada konteks infrastruktur,” ucap Rusli saat diwawancarai di sela-sela aksi.
Ketimpangan Nyata di Jawa Barat Bagian Selatan
Rusli memaparkan fakta di lapangan di mana wilayah penyangga seperti Sukabumi Selatan, Garut Selatan, hingga Cianjur Selatan masih terseok-seok akibat minimnya pemenuhan fasilitas dasar, termasuk jaringan jalan penunjang aktivitas warga yang belum tersentuh pemerataan.
Sektor pendidikan menengah juga menjadi sorotan tajam. Berdasarkan data advokasi PMII, potret buram pendidikan di Tatar Sunda terlihat dari masih adanya 128 kecamatan yang tidak memiliki fasilitas Sekolah Menengah Atas (SMA) berstatus negeri.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
