Dalam proses pelatihan, instruktur melihat peserta tersebut memiliki kemampuan logika dan bakat di bidang pemrograman. Setelah mengikuti seleksi, ia dinyatakan lulus dan diterima bekerja sebagai programmer di sebuah perusahaan teknologi.
“Ketika mengikuti pelatihan pemrograman yang kami selenggarakan pada masa pandemi, instruktur menilai ia sangat berbakat karena kemampuan logikanya kuat. Terbukti, ia lulus tes dan diterima bekerja,” katanya.
Menurut Aria, contoh tersebut menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan tidak selalu menjadi batas bagi penyandang tunanetra untuk mengembangkan karier.
Ia juga mencontohkan penyandang tunanetra yang bekerja di Kementerian Desa sebagai analis kebijakan. Pekerjaan tersebut bahkan mengharuskannya melakukan kunjungan lapangan dan sesuai dengan latar belakang pendidikan antropologi budaya.
“Padahal, mereka bisa menjadi pengacara, sarjana hukum, ahli antropologi budaya, dan profesi lainnya,” ucapnya.
Stigma Masih Jadi Tantangan
Aria menilai tantangan terbesar bukan terletak pada keterbatasan fisik, melainkan stigma mengenai kemampuan penyandang tunanetra.
Stigma tersebut bahkan dapat memengaruhi kepercayaan diri penyandang tunanetra dalam menentukan jurusan pendidikan maupun pilihan karier.
Ia menyebut masih ada penyandang tunanetra yang sejak sekolah diarahkan untuk mengambil pendidikan khusus atau menjadi guru. Padahal, menurutnya, potensi mereka dapat dikembangkan ke berbagai bidang lain.
“Potensinya sangat besar. Mereka hanya membutuhkan bantuan untuk menggali potensi yang terpendam dan mengembangkannya menjadi kemampuan nyata,” katanya.
Sejak mulai menyalurkan tenaga kerja penyandang tunanetra pada awal 1990-an hingga saat ini, Mitra Netra mencatat sekitar 200 orang telah disalurkan ke berbagai pekerjaan, mulai dari operator telepon hingga programmer.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
