Bagi Hilman, semangat tersebut masih relevan untuk generasi muda saat ini. Bentuk perjuangan memang berubah, tetapi keberanian untuk menentukan arah perubahan tetap dibutuhkan.
“Gedung Merdeka ini menjadi simbol, simbol keberanian untuk memimpin perubahan global, untuk menolak menjadi pengekor, dan siap berdiri tegak sebagai pilar peradaban,” tegasnya.
Pesan itu kemudian diarahkan kepada kader Pemuda Persis.
Jika generasi terdahulu berhadapan dengan kolonialisme dalam bentuk penjajahan fisik, generasi hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Perubahan teknologi, pergeseran nilai sosial, krisis kesehatan mental, persoalan kemandirian ekonomi, hingga krisis moralitas anak muda menjadi tantangan baru yang harus dijawab gerakan kepemudaan Islam.
Pemuda Persis Didorong Melakukan Tajdid Syamil
Menghadapi perubahan tersebut, Hilman menilai Pemuda Persis tidak cukup hanya mempertahankan pola gerakan yang sudah ada.
Dibutuhkan pembaruan yang menyeluruh atau Tajdid Syamil, yakni pembaruan yang mampu menjawab persoalan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai.
“Pemuda Persis hari ini dituntut untuk menghadirkan sebuah pembaharuan yang komprehensif, sebuah pembaharuan yang menyeluruh, yang oleh para ahli disebut sebagai Tajdid Syamil,” tuturnya.
Bagi Hilman, pembaruan bukan berarti meninggalkan akar perjuangan. Sebaliknya, perubahan harus dilakukan dengan tetap menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai landasan gerakan.
Karena itu, Muskernas I Pemuda Persis diharapkan tidak hanya menghasilkan daftar program kerja, tetapi juga memperkuat cara berpikir kader dalam menghadapi tantangan zaman.
Editor : Rizal Fadillah
Artikel Terkait
