“Khittah ini adalah jangkar yang menjaga kapal dakwah Pemuda Persis ini tetap stabil dalam mengarungi gelombang zaman hari ini,” ujar Hilman.
Menurutnya, gerakan tanpa khittah berisiko kehilangan ruh perjuangan. Organisasi bahkan dapat terjebak pada orientasi popularitas semata dan meninggalkan nilai yang menjadi fondasi awal perjuangannya.
Karena itu, masa depan Pemuda Persis tidak cukup hanya dibangun dengan mengandalkan kejayaan sejarah.
“Masa depan jam'iyyah kita hari ini itu tidak diwariskan. Masa depan jam'iyyah Pemuda Persatuan Islam itu harus dirancang, harus diperjuangkan dalam kebersamaan,” tegasnya.
Pemuda Persis dan Tantangan Menjadi Arsitek Peradaban
Gagasan tentang masa depan tersebut kemudian bermuara pada satu pesan utama: kader Pemuda Persis harus mampu menjadi arsitek peradaban.
Istilah tersebut tidak dimaknai sebagai sekadar slogan. Hilman menekankan bahwa kader harus memiliki keberanian untuk merancang masa depan, memahami persoalan masyarakat, sekaligus menerjemahkan nilai dakwah ke dalam tindakan nyata.
Kejayaan organisasi, menurutnya, tidak akan lahir hanya dari romantisme terhadap masa lalu.
Sebaliknya, sejarah harus menjadi energi untuk menciptakan karya baru yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Karena itu, kader Pemuda Persis dituntut tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi ikut menentukan arah perubahan tersebut.
Editor : Rizal Fadillah
Artikel Terkait
