Resmi Jadi Apoteker, 71 Lulusan Unisba Dibekali Kemampuan Hadapi Era AI

Susana
Sebanyak 71 lulusan Pendidikan Profesi Apoteker FFDS Unisba resmi mengucapkan sumpah profesi. (Foto: Istimewa).

Untuk menghadapi persoalan tersebut, FFDS Unisba membekali calon apoteker dengan pemahaman keislaman. Bekal tersebut diharapkan membantu para lulusan mempertimbangkan aspek kehalalan sekaligus kebutuhan pasien dalam menjalankan praktik kefarmasian.

Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., juga berpesan agar para apoteker muda tidak berhenti belajar dan mampu mengintegrasikan ilmu kefarmasian dengan nilai-nilai Islam.

Menurutnya, lulusan Unisba tidak hanya dituntut memiliki knowledge dan skill, tetapi juga attitude. Kompetensi akademik harus berjalan beriringan dengan adab, integritas, dan amanah.

“Dahulukan adab daripada ilmu,” pesannya.

Ia mengingatkan para apoteker muda agar sumpah profesi yang telah diucapkan tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi diwujudkan dalam praktik sehari-hari.

Ketika menerima resep dari dokter, misalnya, apoteker harus mampu memastikan keamanan, manfaat, hingga aspek kehalalan obat yang diberikan kepada pasien.

“Ketika dokter memberikan sebuah resep, maka resep itu dibaca oleh kalian. Maka kehalalan obat itu, kebermanfaatan obat itu, dan upaya untuk menyembuhkan bagi pasiennya apakah sudah terpenuhi semuanya? Maka masuklah di dalamnya adalah fikih Islam,” tuturnya.

Harits juga mendorong para lulusan untuk terus berkembang sebagai mujahid yang memperjuangkan ilmu dan profesi, mujtahid yang mampu berpikir serta mengambil keputusan secara tepat, dan mujaddid atau inovator dalam menghadapi tantangan kefarmasian di era digital.

Apoteker Diminta Pegang Teguh Integritas dan Kejujuran

Ketua Badan Pengurus Yayasan Unisba, Prof. Dr. K.H. Miftah Faridl, mengingatkan para apoteker baru bahwa tantangan setelah menyelesaikan pendidikan justru akan semakin beragam.

Karena itu, ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Unisba harus diwujudkan dalam sikap dan pengabdian nyata kepada masyarakat.

Ia menyebut rasa syukur sebagai salah satu bekal penting dalam menghadapi kehidupan. Menurutnya, rasa syukur tidak cukup hanya disampaikan melalui ucapan, tetapi harus diwujudkan dengan memanfaatkan ilmu dan nikmat yang diberikan Allah untuk memberikan manfaat.

“Wujud syukur dalam agama kita bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah, tetapi memanfaatkan segala ilmu yang didapat dan nikmat yang didapat untuk ditunjukkan kepada Allah,” tutur Miftah.

Editor : Rizal Fadillah

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3 4

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network