Apoteker Dituntut Mampu Beradaptasi dengan AI
Di tengah perkembangan teknologi digital, FFDS Unisba juga membekali mahasiswa dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Suwendar mengatakan mahasiswa diberikan pelatihan untuk memanfaatkan teknologi AI dengan tetap mengikuti kebijakan akademik. Kemampuan untuk menyeleksi dan memverifikasi informasi yang dihasilkan AI juga menjadi hal penting.
“Kami tidak mengharamkan AI. Kami persilakan menggunakan AI selama masih dalam koridor kebijakan akademik. Yang penting mereka bisa menyeleksi informasi yang didapat dari AI,” katanya.
Menurut Suwendar, perkembangan AI tidak serta-merta menghilangkan peran apoteker. Justru, kemampuan profesional dalam memeriksa dan memastikan kebenaran informasi menjadi semakin penting.
Sebab, informasi yang diberikan AI tidak selalu sepenuhnya benar. Karena itu, apoteker tetap dibutuhkan untuk memastikan informasi kefarmasian yang diberikan kepada masyarakat dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami pun sebagai apoteker yang wajib atau punya kemampuan untuk melakukan seleksi, mana informasi yang benar, mana informasi yang tidak benar. Dengan demikian, kemampuan seorang apoteker dalam memberikan informasi yang benar itu masih dibutuhkan,” jelasnya.
Unisba Bekali Apoteker dengan Pemahaman Kehalalan Obat
Selain perkembangan teknologi, aspek kehalalan obat juga menjadi perhatian FFDS Unisba. Suwendar mengatakan masih terdapat sejumlah bahan yang digunakan dalam produk farmasi yang perlu dikaji dari perspektif kehalalan.
Beberapa di antaranya berkaitan dengan penggunaan bahan hewani pada kapsul, etanol, hingga bahan tertentu dalam proses pembuatan vaksin.
Editor : Rizal Fadillah
Artikel Terkait
