Perkembangan AI Dorong Perguruan Tinggi Menata Ulang Kompetensi Lulusan

Bennazir
Ketua Pengurus Yayasan Edukasi Siber Indonesia (YESI), Julia Rezeki. (Foto:Istimewa)

Ia menjelaskan, penggunaan AI yang menggantikan seluruh proses berpikir memang berisiko mengurangi kesempatan seseorang mengembangkan kemampuan analitis. Sebaliknya, teknologi tersebut dapat mendukung pembelajaran apabila dimanfaatkan untuk menguji argumentasi, mempelajari pemrograman, menganalisis data, maupun mengembangkan penelitian.

“Melarang atau menghindari teknologi bukan satu-satunya cara menjaga kemampuan manusia! Justru, pendidikan harus mampu mengajarkan kapan AI bermanfaat, kapan penggunaannya berisiko, dan kapan keputusan harus sepenuhnya berada dalam tanggung jawab manusia,” jelasnya.

Perubahan tersebut menuntut perguruan tinggi mengevaluasi kurikulum dan kompetensi yang dibutuhkan lulusan. Penyesuaian tidak cukup dilakukan dengan memperbanyak program studi, tetapi perlu mempertimbangkan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan industri, serta kemampuan menghasilkan inovasi.

Gambaran perubahan itu terlihat dalam penataan pendidikan tinggi di China selama periode 2021–2025. Berdasarkan informasi Kementerian Pendidikan China, sekitar 12.200 lokasi program studi sarjana dihentikan atau ditangguhkan penerimaan mahasiswanya, sementara sekitar 10.200 lokasi program studi baru ditambahkan.

Angka tersebut tidak berarti seluruh program lama digantikan oleh bidang kecerdasan buatan. Namun, perubahan itu memperlihatkan upaya penyesuaian struktur pendidikan tinggi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan industri, dan arah pembangunan.

Editor : Abdul Basir

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3 4

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network