Selami Sejarah Kebun Binatang Bandung, Bukan Sekadar Taman Rekreasi Rakyat
Di tengah kondisi itu, Ch Swart berusaha menawarkan koleksi satwa miliknya ke Sultan Yogya kala itu, dengan harga 2.000 gulden. Namun Sultan Yogya tak berminat.
Untuk menyelamatkan koleksi satwa milik Ch Swart dan EWP Vogelpoel, beberapa warga dan perkumpulan Bandoeng Vooruit berencana membangun kebun binatang baru di Kota Bandung. Lokasinya di sebagian lahan Jubileumpark.
Pada 28 Desember 1932, anggota perkumpulan Bandoeng Vooruit (Bandung Maju) membentuk sebuah komite Bandoengsch Zoologisch Park.
Bandoeng Vooruit melalui Bandoengsch Zoologisch Park membeli koleksi satwa milik Ch Swart di Kebun Binatang Rustoord Cimindi dengan harga 2.000 gulden.
Bandoengsch Zoologisch Park resmi dibuka pada 20 Mei 1933. Kabar pembukaan kebun binatang atau dierentuin dalam bahasa Belanda dimuat surat kabar berbahasa Sunda Sipatahoenan dan surat kabar berbahasa Belanda.
Wali Kota Bandung Von Wolzogen Kuhr meresmikan Kebun Binatang Bandung. Sejak saat itu, warga Bandung resmi memiliki kebun binatang dengan koleksi satwa eksotis dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.
"Kebun Binatang Bandung memiliki nilai sejarah tinggi. Bukan sekadar taman margasatwa tetapi bagian dari dinamika Kota Bandung," kata Yudi.
Kebun Binatang Bandung Jangan Sampai Hilang
Dalam kesempatan itu, Yudi membahas dan mengkritisi tiga opsi Pemkot Bandung memiliki tiga opsi dalam menyelesaikan masalah Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo.
Opsi pertama, mempertahankan kebun binatang Bandung seperti sekarang. Kedua, mengembangkan taman margasatwa dengan jumlah satwa lebih sedikit dan memperluas ruang terbuka hijau. Ketiga, menjadikan kawasan kebun binatang Bandung sepenuhnya sebagai ruang terbuka hijau.
"Statemen ketiga artinya menghilangkan kebun binatang dari Kota Bandung. Jika itu terjadi, hilang sudah sebuah memori kolektif warga kota," kata Yudi.
Yudi sangat menyayangkan opsi ketiga dilontarkan secara sadar oleh Pemkot Bandung. Padahal, kebun binatang adalah fasilitas publik yang telah eksis di Kota Bandung sejak puluhan tahun silam, sejak sebelum Indonesia merdeka.
Editor : Agus Warsudi