Selami Sejarah Kebun Binatang Bandung, Bukan Sekadar Taman Rekreasi Rakyat
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo di Jalan Tamansari, Kota Bandung, menyimpan sejarah panjang. Tempat konservasi satwa itu berdiri sejak zaman kolonial puluhan tahun silam.
Sejarawan Yudi Hamzah mengatakan, Kebun Binatang Bandung bukan sekadar taman rekreasi bagi rakyat tetapi lebih berharga dari itu.
Keberadaannya mengusung empat fungsi selain rekreasi, tapi juga edukasi, konservasi satwa, pelestari budaya Sunda, dan menjaga memori kolektif warga Bandung.
Berawal pada 1931, Gemeente atau Pemerintah Kota Bandung kala itu, menggelar rapat yang membahas rencana perayaan HUT ke-25 Kota Bandung.
Rapat memutuskan perayaan digelar bukan dalam bentuk seremoni yang menghamburkan uang tetapi membangun sebuah taman yang akan terus dikenang sebagai kado ulang tahun dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Taman itu akan dibangun di sebuah lembah tepi aliran Sungai Cikapundung sebelah utara kota. Lokasi tepatnya, tak jauh dari Technische Hogeshcool (ITB saat ini), antara Jalan Lembahweg (Jalan Cihampelas) dan Jalan Dagoweg (Jalan Dago).
Lahan seluas 50.000 meter persegi itu memiliki kondisi alam asri dengan pepohonan tinggi, pinus dan cemara. Sebagian lahan masih berupa permukiman warga, sawah, dan kebun.
Akhirnya Gemeente sepakat membangun taman di kawasan itu dengan nama Jubileumpark dengan biaya 25.000 gulden. Desain taman dirancang oleh arsitek kota, Gerrit Hendriks.
Jubileumpark yang menyimpan beragam hayati atau tanaman langka itu dibuka untuk umum pada 1 April 1931. Kala itu, masyarakat dari berbagai kalangan mengunjungi Jubileumpark dengan berbagai fasilitasnya.
Yudi menjelaskan, berdasarkan penelusuran sejarah yang terdokumentasi dan media lawas, sebelum di Jalan Tamansari, pada 1930-an telah ada kebun binatang mini milik pribadi di Kota Bandung. Seperti di kawasan Dago milik EWP Vogelpoel.
"Namun karena krisis ekonomi pada 1930-an, para pemilik tak sanggup lagi membiayai kebutuhan operasional kebun binatang dan pakan satwa," kata Yudi di sela peluncuran buku berjudul "Kado untuk Bandung, Taman Menjadi Kebun Binatang" Rabu (14/1/2026).
Akhirnya, ujar Yudi, EWP Vogelpoel menjual sebagian koleksi satwanya kepada Ch Swart, pemilik Hotel Rustoord Cimindi, CImahi. Sedangkan sebagian satwa lainnya dibeli oleh pengelola Kebun Binatang Surabaya.
Yudi menjelaskan, berdasarkan catatan sejarah, Namun, kebun binatang Rustoord Cimindi tak berlangsung lama, hanya satu tahun.
Sebab, Ch Swart merasa, keberadaan kebun binatang di dekat hotel membebani keuangan. Sehingga Ch Swart berencana menjual koleksi satwa dan menutup kebun binatang.

Editor : Agus Warsudi