TBC di Indonesia Peringkat Dua Dunia, Kolaborasi ITB Perkuat Peran Apoteker Edukasi Keluarga
Salah satu agenda utama dalam program ini adalah Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan 15 apoteker dari 23 puskesmas di Kota Pontianak.
Forum mengungkap bahwa praktik kefarmasian dalam program TBC masih didominasi pada aspek pengelolaan obat. Sementara peran dalam pelayanan klinis, edukasi, dan pendampingan pasien belum optimal.
Narasumber FGD apoteker Ilman Silanas, MKed MFarm.Klin dari layanan DOTS TB MDR RSHS Bandung, mengatakan, perlunya transformasi peran apoteker dalam penanganan penyakit TBC.
“Apoteker bukan sekadar distributor obat, tetapi garda terdepan dalam memastikan keberhasilan terapi, mencegah putus obat, dan memutus rantai penularan,” kata Ilman.
Diskusi yang berlangsung secara kelompok tersebut membahas berbagai isu strategis. Dari pemahaman tentang TBC dan obat antituberkulosis (OAT), praktik pelayanan kefarmasian, alur rujukan, hingga kolaborasi interprofesional.
FGD ini juga diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat disusun menjadi policy brief di tingkat regional.
Sementara itu, ketua panitia Dr apt Pratiwi Wikaningtyas mengatakan, TBC merupakan persoalan multidimensional yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
“Kami mendorong hasil FGD ini tidak berhenti sebagai diskusi, tetapi dapat dirumuskan menjadi langkah implementatif yang berdampak nyata,” kata Pratiwi.
Selain penguatan tenaga kesehatan, ujar Pratiwi, program ini juga menitikberatkan pada edukasi masyarakat melalui pendekatan berbasis keluarga.
Editor : Abdul Basir