Dulu Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai, Siswa di Pacet Kini Punya Jembatan Garuda yang Kokoh
“Sebetulnya yang dulu juga bisa dilewatin, memang dibangun pakai bambu, cuma ya itu khawatir kalau air lagi besar habis hujan, terus kan licin bambu,” ujar Suryani (46), petani Kampung Rumbia, Rabu (6/5/2026).
Perempuan yang sehari-hari menggantungkan hidup dari sawah dan kebun itu mengaku kerap menunda pekerjaan ketika cuaca buruk datang.
“Kalau posisi hujan, saya lebih baik menunda kalau mau ke sawah atau ke kebun,” katanya.
Tak hanya petani, anak-anak sekolah pun pernah merasakan kerasnya akses tersebut. Sebagian bahkan memilih menerjang sungai demi sampai ke sekolah.
“Betul, kalau dulu sebagian warga memang suka ada yang nyebrang sungai, anak sekolah juga ada. Saya juga pernah,” ucap Suryani.
Kini, pemandangan itu perlahan tinggal cerita.
Jembatan gantung sepanjang 50 meter dengan lebar 1,2 meter yang dibangun selama 3,5 bulan melalui metode padat karya resmi diresmikan Bupati Bandung Dadang Supriatna bersama Dandim 0624/Kabupaten Bandung Letkol Kav Samto Betah pada Rabu (6/5/2026).
Berdiri kokoh di atas sungai, Jembatan Perintis Garuda dibangun dengan kokoh menggunakan penopang besi dan terlihat lebih tinggi.
Jembatan ini juga menjadi simbol perubahan besar bagi dua desa yang selama ini terpisah oleh keterbatasan infrastruktur.
“Saya sangat bersyukur ada jembatan ini, kondisinya juga bagus, kokoh. Bedan pisan dengan yang sebelumnya,” kata Suryani.
Editor : Agung Bakti Sarasa