Industri Tekstil Bandung Berpeluang Kuasai Pasar Global, Wamenperin Optimistis Tembus Eropa
Perketat Pengawasan Tekstil Ilegal
Lebih lanjut Faisol Riza menyoroti salah satu persoalan utama yang selama ini menjadi keluhan industri tekstil nasional, yakni maraknya impor tekstil ilegal dan masuknya barang murah dari luar negeri.
Dia memastikan pemerintah tidak tinggal diam menghadapi persoalan tersebut. Sesuai arahan Presiden, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai akan memperkuat pengawasan di perbatasan.
Hal itu untuk mencegah masuknya barang impor ilegal maupun produk yang tidak memenuhi standard.
"Langkah tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan industri dalam negeri sekaligus menciptakan iklim usaha yang sehat dan adil," ujar Faisol.
Selain pengawasan impor, tutur Wamenperin, pemerintah juga tengah mengkaji berbagai bentuk insentif bagi sektor manufaktur.
Termasuk kemungkinan relaksasi perpajakan serta skema pembiayaan yang lebih fleksibel bagi pelaku industri.
"Kami terus mencari formulasi terbaik agar industri tekstil nasional semakin kompetitif dan mampu melakukan ekspansi usaha," tutur Faisol.
Sementara itu, Direktur Gajah Group Dedi Zein mengungkapkan, keberadaan industri tekstil memiliki dampak sosial sangat besar karena bersifat padat karya.
"Saat ini, PT Gajah Group menyerap lebih dari 3.000 tenaga kerja," kata Dedi Zein.
Menurut Dedi, jika dihitung bersama keluarga para pekerja, maka industri tekstil tersebut turut menghidupi lebih dari 10.000 orang.
Karena itu, keberlangsungan industri tekstil menjadi sangat penting bagi perekonomian daerah dan nasional.
"Kami berharap mendapat bimbingan dan dukungan pemerintah agar semakin memiliki daya saing di pasar internasional dan bisa terus menambah lapangan pekerjaan," ujar Dedi.
Editor : Abdul Basir