Masa Depan Anak Dihancurkan Bos, Ibu Korban TPKS di Bandung Desak Keadilan ke Polda Jabar
Lebih jauh, penilaian dugaan tindak pidana kekerasan seksual seharusnya berfokus pada dinamika pemaksaan tanpa kehendak bebas dan ketimpangan posisi. Korban kekerasan seksual kerap berada dalam posisi tidak berdaya akibat tingginya relasi kuasa atasannya.
Oleh karena itu, penyidikan tidak sepantasnya hanya berpatokan pada pertanyaan mendasar seperti: “Mengapa Korban tidak melawan?, Mengapa Korban tidak berteriak?, atau Mengapa tidak ada luka fisik?”
Demi mendapatkan keadilan formal, tim hukum W resmi melayangkan Permohonan Gelar Perkara Khusus serta mendesak Pengambilalihan Penanganan Perkara kepada Kabag Wassidik Direktorat Reserse PPA-PPO Polda Jawa Barat.
“Langkah tersebut ditempuh untuk menguji kembali objektivitas dan kelengkapan penyelidikan yang dilakukan sebelumnya.” Tegasnya.
Dalam permohonan tersebut, Polda Jabar diminta mengkaji ulang poin-poin krusial secara menyeluruh:
Relasi kuasa antara pemberi kerja (pemilik) dan pekerja.
Situasi psikis dan fisik korban saat insiden terjadi.
Hasil rekam medis psikologis (kondisi depresi berat).
Kesesuaian keterangan korban dan saksi-saksi.
Evaluasi ulang bukti digital dan rekaman CCTV.
Penerapan konstruksi delik yang komprehensif berdasar UU TPKS.
Peristiwa ini meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga korban. Ibunda W, berinisial T (57), menumpahkan kesedihannya saat menceritakan kepribadian anaknya yang berubah drastis pasca-kejadian. W yang tadinya dikenal penuh semangat dan ceria, kini berubah total.
“Kondisi anak saat ini berbeda jauh, sangat sensitif, kadang suka marah-marah yang saya sendiri ga tahu saya salah apa. Anak tidak bisa tidur, kalo tidur selalu diatas jam 1 kadang pagi baru bisa tidur. Kurang percaya diri. Banyak hal-hal yg berbeda. Bekerja pun kurang fokus dalam mengerjakan sesuatu,” ungkap sang ibu dalam pesan singkatnya.
Sebagai seorang ibu, T menegaskan bakal terus berjuang menuntut keadilan agar kasus serupa tidak terulang pada pekerja muda lainnya di Jawa Barat.
“Harapan saya seorang ibu, pasti saya akan berjuang untuk memperoleh keadilan sampai dimana akan saya tempuh. Ini perjuangan semua ibu jika anak gadisnya yang di lecehkan oleh bos nya, yang seharusnya bisa mengayomi, menjadi contoh ,mendidik karyawannya yang baru mencari ilmu untuk bekal masa depannya, bukan di hancurkan masa depannya,” tutupnya.
Editor: Agung Bakti Sarasa