Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Muktamar ke-35 NU Dibuka Prabowo, Ribuan Peserta Siap Tentukan Arah Organisasi
Advertisement . Scroll to see content

Professor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Belajar Dari Prabowo

Jum'at, 18 September 2026 | 14:12 WIB
  • author Aga Gustiana
Professor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Belajar Dari Prabowo
Presiden Prabowo Subianto mengunjungi tenda pengungsian di Nagekeo. (Foto: Ist)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Bulan lalu, Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengatakan bahwa reformasi BUMN besar-besaran tengah berlangsung di negara Asia Tenggara berpenduduk 290 juta jiwa tersebut. Pada akhir tahun ini, lebih dari 750 entitas ditargetkan ditutup —dalam sebuah proses yang mungkin adalah restrukturisasi korporasi terbesar di dunia.

Seperti setiap upaya menata ulang negara, langkah ini menuai kritik. Membongkar hanya dalam hitungan bulan sebuah jaringan yang dibangun selama puluhan tahun, dengan total aset hampir US$1 triliun, pasti akan mengusik kepentingan-kepentingan yang telah mengakar: jajaran direksi dan komisaris, manajer, kontraktor, serta jejaring politik yang tumbuh di sekelilingnya. 

Bandingkan hal ini dengan kegamangan para politikus Inggris ketika harus mengalihkan hanya sekitar 2 persen belanja negara dari kesejahteraan sosial ke pertahanan—seperti diperlihatkan Perdana Menteri Andy Burnham di House of Commons bulan ini—atau dengan para pemimpin politik Amerika Serikat yang bahkan sekadar membicarakan defisit mereka yang sangat besar pun enggan, apalagi mengambil tindakan untuk menguranginya. Apakah gebrakan Prabowo melawan berbagai kepentingan ini akan terbukti sebagai kenekatan atau justru membuahkan hasil, hanya waktu yang dapat menjawabnya.

Di pusat restrukturisasi ini terdapat Danantara Indonesia, badan pengelola investasi negara yang diluncurkan Prabowo pada Februari tahun lalu untuk menghimpun portofolio BUMN Indonesia di bawah satu atap. 

Kritik terhadap Danantara berpusat pada dua kekhawatiran. Pertama, lembaga ini memusatkan kekuatan ekonomi yang luar biasa besar pada sebuah institusi yang pada akhirnya bertanggung jawab kepada Presiden. Kedua, kekuasaan tersebut disertai mandat yang jauh melampaui fungsi sebuah sovereign wealth fund konvensional.

Dalam kedua hal tersebut, motif Prabowo terlalu mudah disimpulkan dari latar belakangnya: ia seorang mantan jenderal, sehingga dengan sendirinya dianggap cenderung menyukai kekuasaan yang luas. 

Editor: Agung Bakti Sarasa

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut