Dipicu Cuaca Ekstrem, 22 Ton Lebih Ikan Mas Mati di KJA Waduk Saguling Bandung Barat
BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id - Kasus kematian massal ikan di keramba jaring apung (KJA) Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mulai terjadi.
Kondisi itu disebabkan cuaca ekstrem peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan sehingga membuat temperatur suhu air berubah secara drastis yang membuat ikan mati.
"Kematian ikan diduga dipicu kondisi perairan memburuk setelah hujan turun terus-menerus. Ada sekitar 22,12 ton ikan yang mati," kata Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, Wiwin Aprianti, Rabu (4/11/2026).
Wiwin menyebutkan, kematian massal ikan di sejumlah KJA yang berada di Waduk Saguling, terjadi pada periode tanggal 31 Oktober hingga tanggal 2 November 2026.
Curah hujan tinggi juga menyebabkan aliran sungai yang bermuara ke Waduk Saguling menjadi kotor. Akibatnya, kualitas air waduk mengalami penurunan sehingga berdampak pada kelangsungan budidaya ikan.
"Ikan yang mati didominasi jenis ikan mas, tersebar di tujuh lokasi keramba jaring apung di kawasan Waduk Saguling," sambungnya.
Ia merinci sebanyak 2 ton ikan mas mati di Blok Bongas, Kecamatan Cililin, 3 ton di Blok Cikadu, 15 ton di Ugrem, dan 2 ton di Blok Balong. Kemudian di Blok Pakuwon, Desa Jati, 50 kg ikan mas mati, di Cijati, Desa Saguling, sebanyak 30 kg, serta 40 kg ikan mati di Mariuk, Desa Girimukti.
Guna meminimalisisasi kematian, pembudidaya ikan agar meningkatkan kewaspadaan, terutama menghadapi perubahan kondisi cuaca ekstrem. Mengingat surat imbauan kesiapsiagaan menghadapi peralihan musim hujan dan potensi upwelling telah diterbitkan dalam surat Nomor 500.5.3/3593/Dispernakan/2026.
Fenomena upwelling merupakan pergerakan massa air dari lapisan bawah menuju permukaan yang dapat membawa kandungan zat tertentu dan memengaruhi kualitas air. Kondisi ini berpotensi mengganggu kehidupan ikan di perairan waduk.
"Antisipasi diperlukan untuk mengurangi risiko kematian ikan akibat cuaca ekstrem, supaya tidak ada kerugian lebih besar lagi," pungkasnya. (*)
Editor: Rizki Maulana