Pameran itu sendiri memandu pengunjung ke dalam latihan mengamati dengan penuh perhatian, di mana terkadang terdapat konfrontasi yang tak terelakkan dengan ketidakjelasan, ketinggian, jarak, dan skala.
Pada akhirnya, ia mengajak pengunjungnya untuk mengamati demi mengamati, menggunakan metode berjalan. Meskipun mendorong pengunjung untuk terlibat dalam aktivitas semacam itu mungkin tampak tanpa tujuan atau egois.
Hal itu justru menjadi sebuah penyelidikan tentang siapa—atau apa—yang saat ini memegang kendali atas perhatian publik, dan apakah perhatian tersebut kini diserap secara paksa secara massal untuk melayani kepentingan yang bertentangan dengan kebutuhan, martabat, dan jati diri mereka.
Maka, fiksasi Aurora terhadap pengamatan menjadi penting. Awalnya, untuk membiasakan diri kembali menjadi perseptif alih-alih terus-menerus terlibat, dan kemudian, untuk mendapatkan kembali kendali atas di mana dan kapan seseorang memegang perhatian mereka.
Aurora Arazzi lebih lanjut menjelaskan, “Experience yg ingin di-share adalah ruangan yang bisa diolah. Ruang ini unik karena ada lower-ground dan upper-ground. Perbedaan ruang itu jadi peluang. Pengalaman jalan kaki, memulung pengalaman, bentuk dan objek untuk dikonfigurasi menjadi bentuk lain. Berjalan kaki di sini cenderung mengeksplorasi berjalan di ruang pameran.
Editor : Abdul Basir
Artikel Terkait
