Semangat Jenderal Ahmad Yani di Smart Military University, Dari Patung Hingga Mata Kuliah

Adi Haryanto
Rektor Unjani Prof. Dr. Agus Subagyo dalam rangkaian kegiatan akademik dan kebangsaan termasuk peresmian patung pahlawan nasional Jenderal Ahmad Yani di Gedung Rektorat Unjani Cimahi, Kamis (12/2/2026). Foto/Istimewa

CIMAHI,iNews BandungRaya.id - Jasa besar pahlawan nasional Jenderal Ahmad Yani menjadi teladan bagi Civitas Akademi Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani).

Oleh sebab itu, Unjani sebagai "Smart Military University" menerapkan pendidikan karakter dan memiliki mata kuliah khusus yang menanamkan nilai-nilai keteladanan Jenderal Ahmad Yani.

"Kami menerapkan sistem pendidikan karakter, melalui mata kuliah ke-Ahmad-Yani-an untuk menanamkan keteladanan Jenderal Ahmad Yani kepada mahasiswa," kata Rektor Unjani, Prof. Dr. Agus Subagyo ditemui usai rangkaian kegiatan akademik dan kebangsaan di Unjani Cimahi, Kamis (12/2/2026).

Menurutnya, mata kuliah wajib universitas tersebut menjadi pembeda Unjani dengan perguruan tinggi lainnya. Selain tentunya Latihan Dasar Kedisiplinan dan Kepemimpinan (LDKK) yang sudah berjalan.

"Di Unjani ada mata kuliah wajib universitas, ke-Ahmad-Yani-an, kalau di Muhammadiyah mungkin Ke-Muhammadiyah-an lah gitu," sambungnya.

Selain itu, lanjut Agus, sebagai bentuk penghormatan lainnya, pihaknya juga meresmikan Patung Jenderal Ahmad Yani di Gedung Rektorat Unjani.

Hal ini menunjukkan jika Unjani membawa nama besar Jenderal Ahmad Yani sebagai identitas universitas. Ada juga gerakan menanam pohon dan peletakan batu pertama masjid.

Disinggung soal kualitas lulusan, Agus menegaskan bahwa Unjani berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter sesuai slogan "Smart Military University".

Yakni disiplin, loyal, dan santun. Sebab kecerdasan tanpa disiplin justru dapat menjadi penghambat di dunia kerja.

Adapun loyalitas menjadi nilai penting yang dibutuhkan dan di beberapa negara lebih utama dibandingkan kepintaran. Sementara santun diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat dan pekerjaan.

Lebih jauh, ia pun menyebutkan jika saat ini Unjani telah menerima Surat Keputusan (SK) Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Sertifikasi profesi dan kompetensi ini menjadi bukti pendukung kemampuan para lulusan perguruan tinggi untuk bersaing di dunia kerja global, selain nilai kemampuan akademik.

"Unjani berkomitmen menjaga mutu proses sertifikasi. Jadi kalau ada mahasiswa yang tidak memenuhi standar, sertifikat tidak akan diberikan," tegasnya.

Ia menerangkan pendirian LSP merupakan permintaan dari alumni saat penyusunan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE). Mengingat hal positif lainnya, LSP juga bermanfaat bagi peningkatan akreditasi universitas.

"Nanti dikedokteran juga akan diterapkan, misalnya seorang dokter tidak hanya dituntut ahli di bidang kedokteran, tetapi juga memiliki kompetensi di bidang IT dan public speaking," sebutnya.

Sementara Komisioner BNSP, Prof. Dr. Amilin menyebutkan perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki lisensi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) baru sekitar 4%.

"Di Indonesia, dari sekitar 4.500 perguruan tinggi baru 4% yang telah memiliki lisensi LSP," ucapnya. (*)

Editor : Rizki Maulana

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network