Cegah TB-Stunting dari Rumah, UPI Gandeng 35 Kader PKK Desa Cisondari Jadi Agen Perubahan

Susana
Tim pengabdian UPI menggandeng 35 kader PKK Desa Cisondari. Foto: Ist.

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Tuberkulosis (TB) dan stunting pada anak menjadi dua persoalan yang dapat berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia. Upaya pencegahan sejak tingkat keluarga pun menjadi penting untuk memutus risiko yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

Merespons persoalan tersebut, tim dosen dan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Cisondari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung.

Program tersebut mengusung tema "Mitigasi TB-Stunting Berbasis Ketahanan Keluarga" dengan melibatkan kader PKK dari berbagai Rukun Warga (RW) di Desa Cisondari.

Keterlibatan kader dari setiap RW diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Para kader diposisikan sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi sekaligus membantu meningkatkan kesadaran keluarga terhadap pencegahan TB dan stunting.

UPI Libatkan 35 Kader PKK

Program pengabdian tersebut mendapat pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui hibah BIMA skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP).

Tim multidisiplin UPI dipimpin oleh Sarah Nurul Fatimah, M.Tr.Sos., dosen Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga.

Tim tersebut juga beranggotakan Ridha Wahdini, S.Kep., Ners., M.Kep., dosen Program Studi Keperawatan, serta Lia Shafira Arlianty, S.Pd., M.Si., dosen Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga.

Selain dosen, kegiatan turut melibatkan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dan Program Studi Keperawatan.

Sebanyak 35 kader PKK yang merupakan perwakilan dari setiap RW di Desa Cisondari mengikuti program tersebut.

Ketua tim pengabdian kepada masyarakat, Sarah Nurul Fatimah, mengatakan keluarga menjadi salah satu titik penting dalam upaya pencegahan TB dan stunting.

"Stunting dan infeksi TB anak adalah lingkaran setan yang harus diputus dari unit terkecil, yaitu keluarga. Kehadiran 35 kader tangguh dari setiap RW di Cisondari ini adalah aset luar biasa."

Menurut Sarah, para kader tidak hanya menjadi peserta pelatihan, tetapi juga diharapkan mampu berperan sebagai agen perubahan di lingkungan masing-masing.

Mereka dibekali pengetahuan dan perangkat monitoring yang dapat digunakan untuk membantu melakukan edukasi serta pendampingan kepada keluarga yang berisiko.

Tiga Pertemuan untuk Perkuat Kapasitas Kader

Program Mitigasi TB-Stunting Berbasis Ketahanan Keluarga dirancang melalui tiga pertemuan intensif dengan materi yang saling berkaitan.

1. Kader Cerdas Gizi

Pertemuan pertama berfokus pada peningkatan kemampuan kader dalam memberikan edukasi mengenai gizi seimbang pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Para kader juga didorong untuk mengenali dan mengoptimalkan potensi pangan lokal sebagai bagian dari edukasi gizi kepada keluarga.

2. Rumah Tangguh TB-Stunting

Pertemuan kedua diarahkan untuk meningkatkan sensitivitas kader terhadap tanda-tanda bahaya TB pada anak.

Selain deteksi dini, kader mendapatkan pemahaman mengenai langkah pencegahan penularan TB di lingkungan rumah sehingga keluarga dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi anak.

3. Sahabat Keluarga Sehat

Pertemuan ketiga membekali kader dengan keterampilan komunikasi melalui metode microteaching.

Kemampuan tersebut diharapkan membantu kader melakukan pendekatan yang lebih efektif dan persuasif ketika memberikan edukasi serta mendampingi keluarga yang memiliki risiko TB maupun stunting.

Dibekali Buku Saku dan Alat Monitoring

Program pengabdian UPI tersebut tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Tim juga menyediakan sejumlah media edukasi dan alat monitoring yang dapat digunakan kader setelah kegiatan selesai.

Salah satunya adalah Buku Saku "Keluarga Tangguh TB-Stunting" yang tersedia dalam bentuk cetak berwarna dan versi digital melalui QR Code.

Selain buku saku, kader mendapatkan Lembar Cek "Rumah Sehat" serta Form Monitoring Ringkas.

Berbagai perangkat tersebut dirancang agar mudah digunakan ketika kader melakukan edukasi maupun pemantauan secara door-to-door di wilayah RW masing-masing.

Dengan adanya perangkat tersebut, kader diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh secara lebih praktis sekaligus menjaga keberlanjutan program di tingkat masyarakat.

Pengabdian UPI Diharapkan Beri Dampak Berkelanjutan

Kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, kader PKK, dan masyarakat Desa Cisondari menjadi bagian penting dari program tersebut.

Peningkatan kapasitas 35 kader PKK diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan TB dan stunting berbasis keluarga di tingkat desa.

Program ini juga menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab persoalan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan edukasi, pemberdayaan, serta pemanfaatan teknologi tepat guna.

Tim pengabdian UPI berharap program Mitigasi TB-Stunting Berbasis Ketahanan Keluarga tidak hanya memberikan manfaat dalam jangka pendek, tetapi juga dapat menjadi fondasi bagi terbentuknya keluarga yang lebih tangguh dalam menjaga kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Pada akhirnya, upaya tersebut diharapkan turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) serta agenda pembangunan nasional dalam mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang sehat, unggul, dan berdaya saing.

Editor : Rizal Fadillah

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network