BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id - Komisi IV DPRD Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengaku heran dengan kondisi bangunan SMPN 2 Ngamprah.
Saat ini sekolah peraih Penghargaan Adiwiyata Tingkat Nasional tersebut tengah dalam sorotan karena fasilitas bangunan sekolahnya banyak yang rusak.
"SMPN 2 Ngamprah itu pernah dapat penghargaan tingkat nasional dan sekolah favorit, makanya kaget kalau fasilitasmya banyak yang rusak," kata Ketua Komisi IV DPRD KBB, Nur Djulaeha saat ditemui, Kamis (20/8/2026).
Nur mengatakan, awalnya melihat informasi di media sosial pada Senin (17/8/2026) malam terkait kondisi di SMPN 2 Ngamprah. Lalu pihaknya mengontak langsung Plt Kepala Dinas Pendidikan untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar di medsos.
Hasil informasi yang didapatnya ada tiga poin masalah utama yang muncul. Yakni masalah penggunaan dana BOS, dugaan pelecehan seksual, dan kondisi ruangan kelas yang rusak.
"Untuk dugaan masalah pelecehan seksual sudah clear, masalah penggunaan dana BOS akan ditindaklanjuti oleh inspektorat, sedangkan soal ruang kelas rusak minta agar segera diperbaiki," tuturnya.
Komisi IV DPRD KBB rencananya akan melakukan pengawasan ke lokasi pekan depan. Untuk mendorong agar hal ini diperhatikan, mengingat SMPN 2 Ngamprah adalah sekolah favorit dan berada di wilayah perkotaan Ibu Kota Bandung Barat.
"Kondisi itu tentunya sangat disayangkan, pemerintah daerah harus mengoptimalkan anggaran rehab sekolah, jangan sampai ada lagi sekolah roboh akibat tidak diperhatikan," tuturnya.
Politisi PKS ini menilai, sekolah harus jadi rumah kedua yang nyaman bagi siswa. Ini bagaimana mau nyaman kalau MCK-nya terbatas dan rusak, kasihan siswa jika ingin buang air harus ditahan dan bisa jadi penyakit.
"Rasio perbandingan untuk MCK itu 1:10, ini muridnya ada 600 lebih tapi MCK hanya empat. Ini jadi masalah, walaupun terkadang sekolah juga terkendala lahan untuk membangun fasilitas MCK," tandasnya.
Seperti diketahui sejumlah fasilitas ruangan kelas di SMPN 2 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengalami kerusakan dan menjadi sorotan publik.
Alhasil selain mengganggu kenyamanan peserta didik dalam menjalani kegiatan belajar mengajar, kondisi itu juga mengancam keselamatan jiwa.
Kerusakan terlihat pada kaca jendela yang pecah, dinding dan pintu yang rusak, hingga beberapa bagian tembok serta atap plapon bolong. Fasilitas toilet memprihatinkan karena terdapat kamar mandi yang tak memiliki pintu. (*)
Editor : Rizki Maulana
Artikel Terkait
