BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Strategi ekonomi sirkular kini kian terbukti ampuh memicu pertumbuhan finansial sekaligus menekan resiko kerusakan alam. Mampu mengolah limbah tak terpakai menjadi bahan baku komersial, dua wirausaha sosial (social enterprise) tanah air—Parongpong RAW Lab dan MYCL—resmi mendapatkan suntikan dana serta pendampingan intensif lewat program DBS Foundation Grant.
Inisiatif ini dirancang guna membesarkan skala usaha sekaligus membuka keran kesejahteraan baru bagi kalangan masyarakat rentan di kawasan pesisir hingga pedesaan. Melalui hibah tersebut, kedua unit usaha disokong dalam bentuk pembiayaan, mentorship, akses ke jaringan bisnis global, hingga peluang ekspansi kolaboratif.
Parongpong RAW Lab memfokuskan aksinya pada pengolahan jaring ikan terbuang (ghost net) menjadi material bernilai tinggi. Sementara itu, MYCL mengolah biomassa sisa panen menjadi material ramah lingkungan berbasis jamur (mycelium) dan rumput laut dengan melibatkan para petani lokal dalam rantai pasoknya.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika menekankan bahwa terobosan kedua entitas ini mematahkan anggapan bahwa profitabilitas dan keanekaragaman hayati tidak bisa berjalan beriringan.
“Kami percaya bahwa bisnis dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan. Melalui DBS Foundation Grant Program, kami ingin membantu social enterprises memperkuat fondasi bisnisnya, mengakses jejaring yang relevan, serta memperbesar dampak bagi komunitas yang membutuhkan. Parongpong RAW Lab dan MYCL menunjukkan bagaimana inovasi lokal dapat menjawab isu lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi nelayan, petani, dan masyarakat yang selama ini berada di rantai nilai yang rentan,” ujar Mona Monika.
Ubah Jaring Bekas Jadi Produk Mentereng
Sebagai penerima dana hibah periode 2025, Parongpong RAW Lab memfokuskan eksekusi program Ghost Net Circular Economy & Coastal Community Empowerment Program di Cilincing (Jakarta) dan Muncar (Banyuwangi). Targetnya tidak main-main: menyerap 20 ton jaring bekas dalam dua tahun, memberdayakan 600 lebih nelayan, merangkul 1.000 warga pesisir, serta mendirikan dua microfactory di tingkat lokal.
Tercatat hingga Agustus 2026, sebanyak 4.500 kilogram lebih jaring hantu berhasil diselamatkan (sekitar 46 persen dari target tahunan) dengan merangkul 179 nelayan dan 150 pelajar di Muncar. Inovasi olahan limbah ini bahkan telah mewujud menjadi Circulites, yaitu koleksi lampu meja estetik ber-diffuser dari daur ulang jaring.
CEO & Founder Parongpong RAW Lab Rendy Aditya Wachid menegaskan bahwa sokongan ini membantunya menyusun ekosistem dari hulu ke hilir.
“Dukungan DBS Foundation membantu kami membangun sistem yang lebih menyeluruh, mulai dari pengumpulan material, edukasi komunitas, peningkatan kapasitas teknologi, hingga pengembangan produk yang dapat diterima pasar. Bagi kami, dampak tidak berhenti pada pengurangan limbah, tetapi juga bagaimana komunitas pesisir dapat mengambil peran aktif dalam rantai ekonomi sirkular dan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik,” ungkap CEO & Founder Parongpong RAW Lab Rendy Aditya Wachid.
Sulap Limbah Tani Jadi Material Kulit Ramah Lingkungan
Di sisi lain, MYCL yang sempat mengantongi hibah serupa pada 2016 dan 2018 terus mengepakkan sayapnya. Kini mereka memproduksi portofolio mycelium composite, mycelium leather, hingga seaweed biopolymer yang berhasil menembus 968 pembeli dari 56 negara. Jenama internasional sekelas Vivobarefoot hingga rantai pasok lapis pertama Adidas bahkan telah menjalin kemitraan resmi.
Secara ekologis, MYCL sepanjang 2025 berhasil mengolah 61,72 ton biomassa tak terpakai dan berhasil mencegah potensi emisi sebesar 148,75 ton CO2e akibat pembakaran limbah. Terobosan ini menghemat 39.887 liter air dan menekan jejak karbon sebesar 27,5 ton CO2 ketimbang pembuatan kulit berbahan hewani. Rantai bisnis ini turut menghidupi lebih dari 200 petani serta menciptakan 60 lebih lapangan kerja hijau di lokasi pabrik mereka.
Co-founder Mycotech Lab Ronaldiaz Hartantyo menyebutkan bahwa pendampingan yang didapat mendorong lompatan teknologi yang berdampak nyata.
“Bagi MYCL, dukungan DBS Foundation tidak hanya membantu kami mengembangkan teknologi, tetapi juga memperkuat fondasi agar inovasi dapat tumbuh menjadi bisnis berdampak. Dengan mengolah limbah pertanian menjadi biomaterial, kami ingin menciptakan material alternatif yang lebih rendah dampak, sekaligus membangun rantai nilai yang memberikan manfaat bagi petani, pekerja, dan industri yang ingin bergerak menuju masa depan yang lebih sirkular,” jelas Co-founder Mycotech Lab Ronaldiaz Hartantyo.
Komitmen Panjang Rekayasa Ekonomi Hijau
Secara regional, DBS Foundation telah mengucurkan hibah menembus SGD21,5 juta untuk lebih dari 160 wirausaha sosial se-Asia sejak 2015. Khusus kawasan Indonesia, alokasi yang dikucurkan telah melampaui angka SGD4 juta bagi 20 lebih entitas berorientasi sosial.
Head of DBS Foundation Karen Ngui menyampaikan apresiasinya saat meninjau langsung fasilitas riset dan produksi Parongpong RAW Lab serta Mycotech Lab di Bandung.
“Mendukung social enterprises seperti Parongpong RAW Lab dan MYCL merupakan bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk mendorong pertumbuhan purpose driven businesses dan memungkinkan mereka memperbesar skala bisnis sekaligus memperluas dampaknya. Keduanya menunjukkan bagaimana business-led solutions dapat berperan penting dalam membangun ketahanan sosial dan ekonomi di komunitas mereka. Saya sangat senang melihat bagaimana para social enterprises muda di Indonesia berkomitmen membawa perubahan, menjalankan bisnis dengan memberikan dampak positif,” ujar Karen saat mengunjungi fasilitas Parongpong RAW Lab dan Mycotech Lab di Bandung pada Kamis (20/8/2026).
Melalui sinergi ini, model bisnis berbasis lingkungan yang diusung Parongpong RAW Lab dan MYCL diharapkan mampu menginspirasi lahirnya ekosistem ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan di tanah air.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
