Siasat Kedai Kopi di Bandung Hadapi Lonjakan Harga Plastik, Ajak Pelanggan Pakai Tumbler Pribadi
Meski margin usaha saat ini dianggap masih dalam batas aman karena bahan baku lain stabil, Irfan mulai melirik opsi jangka panjang. Salah satunya adalah mengganti kemasan plastik dengan wadah berbahan kertas yang harganya relatif lebih konsisten.
“Kami juga menyediakan cup kertas yang masih belum naik, jadi bisa jadi alternatif. Tapi kalau plastik makin mahal, kemungkinan bisa beralih semua ke kertas,” jelasnya.
Tak hanya itu, penggunaan gelas kaca untuk pelanggan yang dine-in (minum di tempat) juga mulai dimaksimalkan. Namun, opsi ini memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait identitas brand dan risiko kerusakan.
“Cup plastik ini ada custom nama Ju-e Kopi sebagai branding. Kalau pakai gelas kaca, biasanya polos. Kalau mau custom juga biayanya besar, bisa Rp20-30 ribu per gelas, belum lagi harus pilih yang kuat supaya tidak mudah pecah,” beber Irfan.
Menariknya, Irfan mencatat baru sekitar 20 persen pelanggan yang memiliki inisiatif membawa wadah minum sendiri. Uniknya, motivasi mereka pun beragam, bukan sekadar urusan lingkungan. “Yang bawa tumbler paling sekitar 20 persen. Itu pun kebanyakan bukan karena alasan lingkungan, tapi biar muat lebih banyak, biasanya ukuran 750 ml,” kelakarnya.
Editor : Agung Bakti Sarasa